Jepang mengalahkan Spanyol 2-1. Lolos ke Babak 16 Besar Piala Dunia 2022 dengan status juara Grup E, menyisihkan juara dunia empat kali Jerman. Ini sebuah capaian luar biasa, karena menyamai prestasi saat menjadi tuan rumah Piala Dunia bersama Korea Selatan pada 2002. Kala itu, Hidetoshi Nakata dan kawan-kawan menjuarai Grup H.
Bagaimana sepak bola Jepang melakukannya? Saya teringat adegan percakapan antara Moritsugu Katsumoto dengan Nathan Algren dalam film The Last Samurai.
Katsumoto adalah seorang samurai. Seorang ksatria dalam tradisi Jepang yang melindungi kekaisaran turun-temurun selama ribuan tahun. Sementara Algren adalah seorang kapten dalam militer Amerika Serikat yang menjadi tawanan Katsimoto.
“Apa yang Anda inginkan dari saya?” tanya Algren.
“Mengetahui musuhku,” sahut Katsumoto.
Katsumoto membuka buku harian Algren, membaca catatan-catatan mengenai orang-orang Indian dalam rangkaian pertempuran sebelumnya, dan meminta Algren menceritakan pengalamannya. “Aku ingin belajar,” katanya kepada Algren.
Di hadapan bunga-bunga sakura yang mekar, Katsumoto menuturkan sebuah filosofi kepada Algren. “Untuk mengetahui kehidupan pada setiap embusan napas: jalan para samurai. Itulah Bushido.”
Menurut Kallie Szczepanski, seorang doktor sejarah lulusan Boston University, Bushido sering disebut-sebut sebagai fondasi kebudayaan Jepang. Yamamoto Jocho, seorang penggawa Klan Nabeshima yang hidup pada 1659–1719, menyebutkan, nilai-nilai Bushido mendorong seorang samurai rela mengorbankan diri untuk orang lain.
“Representative of the samurai ideal is the notion of personal responsibility and a willingness to be accountable, even though it may cost them their life,” kata Alexander Bennett dalam buku Bushido and the Art of Living—An Inquiry into Samurai Values.
Di era kuno, Bushido adalah bagian dari eksistensi samurai. Di era modern, Bushido disebut-sebut dalam proses terciptanya identitas nasional baru, dan pada 1970-1980, Bushido sering dikutip untuk menggambarkan kekuatan di balik kemakmuran ekonomi Jepang.
“Pada saat itu, Bushido diartikan kerja keras ekstrem, kesetiaan terhadap perusahaan tempat kerja, dan pemujaan terhadap kualitas dan presisi sebagai sebuah tanda kehormatan personal,” kata Szczepanski.
Bushido membutuhkan kerelaan dan kerendahan hati untuk belajar dari musuh sekalipun, sebagaimana dilakukan Katsumoto. Belajar dan beradaptasi adalah kemampuan istimewa orang-orang Jepang, selain kedisiplinan.
Sebagai sebuah negara, Jepang dikalahkan dengan telak oleh Amerika Serikat setelah bom nuklir mendarat di Nagasaki dan Hiroshima. Namun sebagai sebuah bangsa, mereka tidak hancur. Mereka menyerah secara politik namun tidak lemah untuk membangun kembali kehidupan mereka setelah perang usai.
Jepang tidak diperkenankan oleh Amerika untuk memiliki angkatan perang setelah Perang Dunia II. Bushido tak lagi disinggung dengan vulgar, karena dikaitkan dengan imperialisme Jepang. Namun, karakter yang tertanam selama ribuan tahun itu tak bisa hilang begitu saja dari masyarakat Jepang: kesederhanaan, kejujuran, dan keberanian. Bennett mengatakan, Bushido sering kali disebut-sebut dalam sejarah perubahan sosial masyarakat Jepang.
Szczepanski mengatakan, dalam sepak bola, Bushido didefinisikan sebagai kerja keras, fair play, dan semangat juang. Budaya pop Jepang ikut mempopulerkan semangat Bushido dalam sepak bola ini melalui manga atau komik ‘Captain Tsubasa’, yang menempatkan seorang pemain sepak bola imajiner bernama Tsubasa Ozora sebagai tokoh utama. Komik ini sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia, termasuk bahasa Indonesia.
Sejumlah pernyataan dalam panel-panel dialog komik itu menunjukkan bagaimana Bushido dipahami. Simak saja: ‘Setiap orang punya kesalahan. Tapi, kita harus saling mengisi dan saling membantu, itulah yang namanya kesebelasan.’ Atau ‘Aku akan berjuang sampai titik darah penghabisan. Ini bukan sekadar pertandingan, ini sebuah pertarungan harga diri’.
Definisi Bushido sebagaimana dijelaskan Szczepanski sebenarnya tak hanya terlihat dalam pertandingan tim nasional Jepang di atas lapangan hijau, tapi juga dari proses panjang untuk membangkitkan sepak bola negeri itu. Jauh sebelum membuat dunia terpana dalam Piala Dunia di Qatar 2022, Tim Nasional Jepang terbiasa dengan kegagalan demi kegagalan. Kurang lebih seperti Tim Nasional Indonesia.
Sebelum Perang Dunia II pecah, nama Jepang di level sepak bola internasional lebih dulu terdengar dibandingkan negara-negara lain di Asia, karena Asosiasi Sepak Bola Jepang atau Japan Football Association bergabung dengan FIFA pada 1929.
Jepang sebenarnya berpeluang menjadi peserta Piala Dunia 1938 di Prancis. Namun suasana jelang perang dunia membuat mereka menarik diri dan digantikan Indonesia yang saat itu bernama Hindia Timur. Dua tahun setelah Perang Dunia II, tepatnya pada April 1947, pertandingan sepak bola bertajuk ‘Perang Bintang’ kembali digelar. Namun mereka masih dilarang ikut serta dalam Piala Dunia 1950 oleh FIFA.
Jepang baru berpartisipasi dalam kualifikasi Piala Dunia pada 1954 dan kalah agregat 3-7 dari Korea Selatan dalam dua pertandingan. Tahun 1962, Jepang kembali gagal menembus putaran final Piala Dunia di Chile karena kalah dari Korea Selatan di babak kualifikasi.
Tahun 1968, Jepang berhasil merebut medali perunggu cabang olahraga sepak bola dalam Olimpiade Meksiko. Namun sejak 1970 hingga 1994, tim berjuluk Samurai Biru ini selalu mengalami kegagalan untuk menembus putaran final Piala Dunia.
Tak mau terlihat seperti keledai yang selalu terperosok di lubang yang sama (sementara Korea Selatan rutin lolos Piala Dunia), Federasi Sepak Bola Jepang mulai merintis pembentukan liga profesional pada akhir 1980-an. Konon salah satu acuannya adalah Liga Sepak Bola Utama (Galatama) di Indonesia yang diputar pada 1979.
Tahun 1992, Federasi Sepak Bola Jepang memutar kompetisi profesional bernama J-League. Dua tahun kemudian Galatama di Indonesia dibubarkan dan digabung dengan Perserikatan.
Pembentukan J-League ini juga bagian dari upaya untuk mempopulerkan sepak bola. Kendati sejumlah ahli sejarah mengklaim rakyat Jepang sudah mengenal sepak bola zaman kuno (dengan nama kimari), namun sepak bola hanya menduduki peringkat ke-22 yang dimainkan masyarakat Jepang pada 1991. Menurut koran Asahi Shinbun, sepak bola kalah populer dari baseball yang dimainkan warga berusia 15-19 tahun.
J-League mendatangkan pelatih dan pemain-pemain terkenal dunia yang memasuki masa senja untuk menarik penonton. Taktik yang sama dipakai oleh Liga Indonesia pada masa-masa awal dengan mendatangkan Roger Mila. Namun berbeda dengan dunia sepak bola di Indonesia, kedatangan para pemain dan pelatih asing ke Jepang benar-benar menjadikan ‘transfer ilmu’ bukan sekadar jargon.
Stuart Baxter, pelatih Sanfrecce Hiroshima asal Inggris, memuji etos kerja dan semangat belajar para pemain Jepang. “Di negara lain jika Anda tidak memainkan seorang pemain, mereka akan datang dan bertanya ‘kenapa Anda tidak memainkan saya?’. Di Jepang, pemain justru datang dan bertanya: ‘Tuan Baxter, adakah yang bisa saya lakukan untuk memperbaiki permainan saya?’
Semangat kerendahan hati dan fair play terlihat saat pemain Jepang melakukan kesalahan di lapangan. Mereka akan meminta maaf satu sama lain.
Enam tahun setelah J-League terbentuk, Jepang untuk pertama kalinya lolos ke putaran final Piala Dunia di Prancis. Bergabung dengan Grup H, Masashi Nakayama dan kawan-kawan dikalahkan Argentina dan Kroasia masing-masing 0-1 dan Jamaika 1-2. Mereka gagal lolos ke putaran berikutnya. Namun Piala Dunia Prancis 1998 menjadi titik pijak penting persepakbolaan Jepang.
Klub-klub sepak bola Eropa mulai mengarahkan pandangan ke Negeri Matahari Terbit. Jika sebelumnya J-League lebih banyak mengimpor pemain, kini klub-klub Eropa mengirimkan pemantau bakat ke Jepang, dan Jepang mulai mengekspor pemain-pemain sepak bola ke sejumlah negara.
Menurut data yang dilansir Soccerway.com, para pemain Jepang bermain untuk klub-klub di berbagai level kompetisi di Inggris, Spanyol, Italia, Jerman, Prancis, Belanda, Albania, Armenia, Austria, Belgia, dan lain-lain. Khusus di Indonesia, ada 10 pemain Jepang yang bermain untuk klub Liga 1 dan dua pemain di Liga 2.
Melimpahnya jumlah pemain Jepang yang bermain di liga-liga negara lain sedikit banyak menguntungkan tim nasional Samurai Biru. Mereka bisa belajar banyak dari kultur sepak bola negara lain, terutama di negara-negara Eropa. Dan akhirnya takdir menggariskan pertemuan dengan dua tim nasional dari negara yang paling banyak menampung pemain Jepang, yakni Spanyol dan Jerman. Tercatat ada 28 pemain Jepang yang bermain di Spanyol dan 53 pemain di Jerman.
Masayuki Tamaki, tokoh kunci J-League, mengatakan: “Orang Jepang bekerja keras dari zaman Meiji untuk mengejar ketertinggalan dari bangsa-bangsa Barat. Kemudian mereka mengawali semua dari nol lagi setelah Perang Dunia II. Tapi untuk apa mereka melakukannya?… Tentu tujuannya bukan hanya untuk menatap bagan pertumbuhan surplus perdagangan dan menerbitkan senyum puas bukan? J-League memberikan sebuah jawaban jelas untuk ini: kita semua hidup untuk menikmati olahraga”.
Apakah kegembiraan itu akan bertahan hingga 18 Desember 2022? [wir]






