Jember (beritajatim.com) – Sampah organik adalah jenis sampah terbanyak di Indonesia. Timbulan sampah organik secara nasional adalah 38,4 juta ton per tahun atau sekitar 60 persen dari populasi di Indonesia.
Sumber terbanyak secara nasional berasal dari rumah tangga, yakni sekitar 48 persen, dan pasar tradisional sekitar 24 persen. Terbesar adalah sampah makanan. Rata-rata setiap orang di Indonesia membuang 300 kilogram makanan ke tempat sampah setiap tahun. Ini menempatkan Indonesia sebagai negara kedua terbesar dalam hal pembuangan sampah makanan setelah Arab Saudi.
Selain sampah organik, timbulan sampah plastik mencapai 8,96 juta ton per tahun atau 14 persen. Sampah kertas 5,76 juta ton, logam 2,75 juta ton, karet 3,52 juta ton, kain 2,24 juta ton, kaca 1,09 juta ton.
Tri Ratnasari, Ketua Tim Lingkungan Universitas Jember, di Kabupaten Jember, Jawa Timur, mengatakan, semua sampah itu dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA). Ini mengakibatka terjadinya gunungan sampah yang merugikan warga.
“Dampaknya ke beberapa hal, yakni mengurangi kebersihan dan keindahan, mengurangi kenyamanan, menjadi media penularan penyakit, penurunan kualitas lingkungan, dan dampak polutan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun),” katanya, ditulis Minggu (12/2/2023).
[berita-terkait number=”4″ tag=”unej”]
Dampak sampah organik berupa makanan cukup berbahaya. Gas metana yang dihasilkan dari makanan dalam tumpukan sampah 21 kalu lebih berbahaya daripada karbondioksida. Dalam skala besar hal ini akan memicu tingkat polusi dan panas yang tak stabil. Selain itu, sampah organik yang kurang bagus dikelola akan menimbulkan bau yang tak sedap. Masyarakat di sekitar limbah akan mudah terserang penyakit yang ditularkan dan lalat hijau.
“Sampah organik ini sebenarnya sangat mudah dikelola. “Dia mudah sekali terurai dan bisa dimanfaatkan apa saja,” kata Ratnasari.
Masalahnya, hampir tidak ada rumah tangga yang memiliki fasilitas pemilahan sampah. “Kita buang sampah yang di tempat sampah. Jadi susah mengelola sampah organik karena sampah kita tidak dipilah. Padahal sampah organik ini sebenarnya luar biasa manfaatnya,” kata Ratnasari. [wir/but]






