Lamongan (beritajatim.com) – Menyambut peringatan 1 Abad Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Pusat Madiun, berbagai rangkaian kegiatan positif tanpa lepas dari makna mulai dilaksanakan di tingkat Rayon.
Menariknya Pengurus Rayon PSHT Latukan, Cabang Lamongan, Pusat Madiun menggelar kegiatan jalan sehat bersama yang diikuti oleh seluruh elemen masyarakat Desa Latukan, Kecamatan Karanggeneng, Lamongan.
Namun, bukan soal jalan sehatnya, poin pentingnya adalah seluruh elemen yang terdiri dari warga LDII, Nahdahtul Ulama bersama banom (badan otonom-nya), kemudian Muhammadiyah, PPDM dan IMM beserta seluruhnya menjadi satu hati dalam keindahan dunia d Hari Raya Idulfitri 2022.
Kepala Desa Latukan M. Jiono mengungkapkan bahwa soal kebersamaan dan kerukunan seperti inilah yang menjadi suatu kewajiban dan harus dirawat bersama di tingkat desa.
“Di momen baik menjelang 1 abad PSHT dan Hari Raya Idulfitri ini saya sangat bahagia dan berharap, SH Terate Rayon Latukan terus menciptakan kebersamaan dan kerukunan. Sehingga ketertiban dilingkungan sekitar khususnya didesa dan masyarakat pada umumnya,” ucap M. Jiono saat memberangkatkan peserta jalan sehat, Kamis (5/5/2022), di Lapangan Desa Latukan.
[berita-terkait number=”4″ tag=”psht”]
Tak hanya itu, lanjut Kades Jiono, warga PSHT Latukan juga bisa mengamalkan falsafah hidup “Memayu Hayuning Bawana” sebagai budi pekerti. Bahwa sebagai orang jawa harus turut serta memperindah dan merawat dunia secara lahir dan batin.
“Alhamdulillah, peran PSHT di masyarakat Desa Latukan mampu mendorong pemuda desa untuk terampil dan mendorong kemajuan anak bangsa dalam hal kesehatan jasmani dan kerohanian. Sehingga menjadikan percontohan masyarakat yang berpancasila di lingkungan masing-masing,” tutur M Jiono.
Senada dengan itu, Ketua Panitia Peringatan 1 Abad PSHT, Rayon Desa Latukan Mas Yuli Seftianto juga mengungkapkan rasa syukurnya, karena warga PSHT mampu mengaplikasikan falsafah Memayu Hayuning Bawana dalam kegiatan yang sangat sederhana.
“Bukan di momentum kegiatan ini saja, di kehidupan sehari-hari budi pekerti luhur Memayu Hayuning Bawana adalah spiritualitas kerohanian kita bersama dalam upaya-upaya melindungi keselamatan dunia baik lahir maupun batin,” tuturnya.
Masih kata Mas Yuli, orang jawa berkewajiban untuk memayu hayuning bawana atau memperindah keindahan dunia. Hanya inilah yang memberi arti dari hidup. Selain itu secara harfiah, lanjutnya, manusia harus memelihara dan memperbaiki lingkungan fisiknya. Sedangkan di sisi lainnya, manusia juga harus memelihara dan memperbaiki lingkungan spritualnya.
“Pandangan tersebut memberikan dorongan bahwa hidup manusia tidak mungkin lepas dari lingkungan. Orang Jawa menyebutkan bahwa manusia hendaknya arif lingkungan, tidak merusak dan berbuat semena-mena,” pungkas Mas Yuli. [riq/suf]







