Surabaya (beritajatim.com) – Tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022 lalu menjadi kenangan buruk bagi Akmal, anggota polisi Polres Trenggalek ini saat itu ditugaskan korpsnya untuk menjadi salah satu diantara petugas kepolisian yang mengamankan pertandingan Arema lawan Persebaya. Namun naas, Akmal mengaku dikeroyok oleh puluhan suporter Arema atau biasa disebut Aremania.
“Saat itu saya dihajar oleh puluhan Aremania,” terang Akmal saat menjadi saksi di persidangan.
Dalam persidangan ini, tiga terdakwa didudukkan mereka Kabag Ops Polres Malang Kompol Wahyu Setyo Pranoto, Danki 3 Brimob Polda Jatim AKP Hasdarmawan dan Kasat Samapta Polres Malang AKP Bambang Sidik Achmadi. “Saat itu saya bertugas di tribun 12. Sebelum pertandingan usai, suasana mulai tidak kondusif. Suporter menyanyikan yel yel yang memprovokasi,” terang Akmal.
[berita-terkait number=”5″ tag=”tragedi-kanjuruhan”]
Masih kata Akmal, di tribun 12 tempat dia berjaga juga tercium bau alkohol. Dan dia melihat suporter membawa minuman alkohol yang dikemas dengan plastik bening.
Usai melakukan yel-yel provokasi, penonton, kata Akmal, menjadi brutal ketika wasit membunyikan peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan Arema vs Persebaya yang dimenangkan Persebaya dengan skor 2-3.
Akmal berusaha meredam suporter yang tampak sangat emosional, namun upaya tersebut sia-sia. Dia malah mendapat caci maki dari penonton. “Wes wes rek muleh, pertandingane wes mari,” kata Akmal menirukan himbauan kepada suporter. Namun tidak tidak dihiraukan.
Saat Akmal berjalan keluar, di pintu dia sempat terhimpit ratusan orang. Saat itulah dia mendapat tendangan kepalanya dari belakang. Ia pun tersungkur. Ia ditendang dan dipukul beramai-ramai. Sambil melindungi tubuhnya, Akmal menunggu waktu yang tepat untuk lari. Ketika ia merasa serangan terhadap dirinya mulai berkurang, ia langsung bangun dan lari mencari tempat yang aman.
“Saya menemui anggota polri dan dibawa ke truk dalmas. Di truk sudah ada banyak korban. Saya belum tahu sudah meninggal atau belum. Kemudian kami diantar ke RS Wava Husada,” paparnya.
Penderitaan Akmal tidak sampai di situ. Saat di RS ia mendapat kabar kalau Aremania akan melakukan sweeping mencari anggota polisi yang dirawat di sana. Dalam keadaan kepala diperban, ia bersembunyi. Untuk menyamarkan identitasnya, petugas RS Wava memakaikannya baju hazmat. [uci/kun]






