Jakarta – Saham sektor pertahanan dan kedirgantaraan di kawasan Asia mencatatkan penguatan signifikan dalam beberapa pekan terakhir.
Meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta operasi militer AS di Venezuela, mendorong minat investor terhadap saham-saham industri pertahanan.
Perusahaan pertahanan asal Jepang dan Korea Selatan menjadi motor utama reli tersebut. Sejumlah saham bahkan mencatatkan lonjakan harga lebih dari dua kali lipat dalam setahun terakhir, seiring ekspektasi kenaikan belanja militer global.
Saham Pertahanan Jepang dan Korea Selatan Memimpin Reli
Reli saham pertahanan Asia semakin menguat sejak operasi militer AS yang menggulingkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada awal Januari. Di Jepang, saham Mitsubishi Heavy Industries melonjak lebih dari 12 persen dalam dua pekan pertama Januari. Kenaikan serupa juga dialami Kawasaki Heavy Industries dan IHI Corporation.
Analis pasar senior Matsui Securities, Tomoichiro Kubota, menilai penguatan tersebut tidak lepas dari faktor geopolitik global.
“Saham-saham terkait pertahanan Jepang menguat karena operasi militer AS di Venezuela memperbarui ekspektasi untuk peningkatan belanja pertahanan,” ujar Kubota.
Di Korea Selatan, saham Hanwha Aerospace melonjak lebih dari 11 persen hanya dalam satu sesi perdagangan pekan lalu. Korea Aerospace Industries, produsen jet tempur nasional, naik hampir 5 persen, sementara Poongsan dan Hanwha Systems juga mencatatkan penguatan signifikan.
Ketegangan AS-Iran Perkuat Prospek Sektor Pertahanan
Sentimen positif terhadap saham pertahanan turut dipicu meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran. Presiden AS Donald Trump menyampaikan pesan kepada warga Iran yang memprotes pemerintah mereka bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan,” yang memicu spekulasi pasar terkait potensi langkah militer Washington terhadap Teheran.
Sebagai respons atas eskalasi tersebut, Pentagon dilaporkan mulai memindahkan sebagian personel dari Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, mempertegas kekhawatiran akan konflik regional yang lebih luas.
Analis Eugene Investment & Securities memproyeksikan industri pertahanan Korea Selatan akan tetap tumbuh kuat pada 2026, menyusul perolehan kontrak baru senilai lebih dari US$15 miliar sepanjang 2025.
Sementara itu, analis Kiwoom Securities, S.J. Park, menyebut Hanwha Aerospace menjadi pemimpin reli karena ekspektasi kontrak baru dari Polandia dan negara-negara Timur Tengah.
“Permintaan terhadap howitzer self-propelled, rudal permukaan-ke-udara, dan kendaraan lapis baja diperkirakan terus meningkat,” kata Park.
Dampak Global, Industri Pertahanan Eropa Ikut Menguat
Lonjakan sektor pertahanan tidak hanya terjadi di Asia. Di Eropa, reli industri pertahanan semakin meluas, ditandai dengan rencana Czechoslovak Group, pemasok amunisi asal Praha, untuk melantai di bursa Euronext Amsterdam dengan target penggalangan dana sebesar €750 juta.
Saham-saham pertahanan Eropa juga mencatatkan kenaikan signifikan. Keranjang saham pertahanan yang dipantau Goldman Sachs naik hingga 3,8 persen dalam satu sesi, sementara indeks Stoxx Europe Aerospace and Defense menguat selama lima hari berturut-turut.
Penguatan ini turut didorong oleh seruan Presiden Trump untuk meningkatkan belanja militer AS hingga 50 persen menjadi US$1,5 triliun pada 2027, yang semakin memperkuat prospek jangka panjang industri pertahanan global.
Investor Beralih ke Sektor Defensif
Analis menilai reli saham pertahanan mencerminkan pergeseran strategi investor ke aset-aset defensif di tengah ketidakpastian global.
Dengan konflik geopolitik yang belum menunjukkan tanda mereda, sektor pertahanan diperkirakan tetap menjadi salah satu pilihan utama pasar sepanjang 2026. (ted)






