Malang (beritajatim.com) – Muhammad Dzunnurain (23) teringat momen bahagia tatkala mengetahui namanya muncul dalam daftar penerima Beasiswa Cendekia BAZNAS. Batinnya terasa lega. Juga rasa haru. Satu kekhawatiran yang membayanginya telah teratasi.
“Ada rasa diselamatkan. Bukan hanya secara finansial tetapi juga secara mental,” ujar Dzunnurain tatkala berbincang dengan beritajatim.com.
Dia tak akan pernah menghapus momen indah itu. Menyimpannya sebagai pengingat akan masa di mana dia bertemu dengan keputusasaan. Saat di mana dia hampir saja tak berani berharap.
“Beasiswa ini datang di saat saya benar-benar berada di persimpangan antara melanjutkan kuliah atau berhenti demi bertahan hidup,” ungkapnya dengan berkaca-kaca.
Dzunnurain, mahasiswa Semester VII Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Islam Malang (Unisma) ini tidaklah lahir dari keluarga berkecukupan. Ayah dan ibunya adalah pasangan petani di Sumenep. Secara finansial, tentu keluarga ini sangat sederhana.
Meski kondisi ekonomi yang sederhana, Dzun, sapaan Dzunnurain, punya keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Harapannya dengan kuliah, dia bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih mapan. Selain itu, sebagai anak pertama dari tiga bersaudara membuat Dzun merasa bertanggung jawab untuk mengangkat derajat keluarga.
“Awal sedikit kurang yakin dengan biaya kuliah, dan saya mohon ridho, doa, dan segala kebutuhan kepada orang tua saya agar bisa lanjut ke kuliah. Setelah masuk saya akan cari jalan apapun untuk meringankan biaya dari orangtua. Kata-kata itu yang aku katakan pada ibu sejak saya mau daftar kuliah,” kata dia.
Sejak semester pertama, Dzun menjalani perkuliahan dengan kemampuan seadanya. Saat itu, biaya kuliah masih bisa ditanggung orangtuanya. Namun untuk biaya hidup sehari-hari, uang kiriman dari kampung sangatlah tidak mencukupi. Alhasil, pada semester II Dzun memutuskan untuk bekerja sebagai penjaga warung Madura di Kecamatan Lowokwaru, Malang.
Untuk meringankan beban, Dzun juga berusaha mencari beasiswa. Empat kali dia mencoba mendaftar beasiswa. Sayangnya, seluruh upaya itu gagal.
Saat semester IV, barulah masalah datang. Orangtua Dzun memutuskan bercerai. Dampaknya, tidak ada lagi kiriman uang untuk pembayaran biaya kuliah. Dzun pun dibayangi kekhawatiran
”Waktu itu saya terus menghitung nasib, apakah semester depan masih bisa kuliah atau harus berhenti karena ekonomi keluarga goyang pasca perceraian orang tua,” kenang Dzun.
Sebagai anak muda yang sedang ingin menggapai mimpi di bangku kuliah, ia menghadapi kendala finansial yang membuat fokusnya terpecah. Di satu sisi, Dzun sangat ingin melanjutkan kuliah hingga selesai dan meraih gelar Sarjana, sementara di sisi lain ada tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidup harian.
“Ancaman terbesarnya bukan hanya kekurangan uang, tetapi ketidakpastian masa depan. Saya sempat berada pada fase kuliah sambil kerja 24 jam di Warung Madura dan terus menghitung nasib. Fokus akademik kerap terganggu karena pikiran terbagi antara belajar dan bertahan,” sambung Dzunnurain.
Bagi Dzun dan mungkin ribuan mahasiswa lain yang senasib, pendidikan tinggi sempat terasa seperti kemewahan yang sulit dijangkau. Ia pernah berada di persimpangan jalan yang paling menakutkan bagi seorang penuntut ilmu: memilih antara biaya pendidikan atau kebutuhan pokok.
Kondisi serupa juga dialami oleh Safira Ramadani Mahfud (22), mahasiswi Unisma lainnya. Ia juga sedang menghadapi persoalan ekonomi yang sama.
Gadis yang tumbuh di lingkungan pesantren di daerah pelosok Bangkalan ini sudah terbiasa akrab dengan keterbatasan. Namun, ujian kali ini terasa jauh lebih berat dari biasanya.
Ayahnya, tulang punggung keluarga yang dahulu merantau ke luar kota demi menghidupi istri dan anak-anaknya, harus menyerah pada kondisi fisik. Pasca-operasi serius karena penyakit, sang ayah tak lagi mampu bekerja keras.
Sementara itu, usaha kecil-kecilan keluarganya di kampung halaman merosot tajam. tergerus oleh gelombang digitalisasi dan maraknya marketplace yang perlahan mematikan pedagang konvensional. Ironisnya, di saat dunia bergerak digital, pendidikan Safira justru terancam terhenti karena ketidakmampuan toko fisik keluarganya bersaing.
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Semester VII Unisma itu harus berulang kali ke bagian keuangan kampus untuk memohon keringanan lantaran terkendala biaya. Itu terjadi sejak ayahnya tidak lagi mampu bekerja secara fisik pasca-operasi, kondisi finansial keluarga di Bangkalan merosot.
“Setiap mau masuk semester baru, rasanya tidak tenang. Orangtua bahkan harus mencari pinjaman ke sana kemari. Saya sering mengajukan dispensasi ke pihak keuangan kampus agar tetap bisa mengikuti ujian,” ujar Safira menceritakan masa-masa sulitnya.
Di tengah keputusaasaan itu, Safira sempat berniat untuk bekerja paruh waktu (part-time). Ia ingin meringankan beban orangtua, meski ia tahu konsekuensinya adalah waktu belajar akan tergerus.
Namun, niat itu terhalang oleh restu orangtua yang, meski dalam kondisi sulit, tetap memegang teguh prinsip bahwa tugas utama anak mereka adalah mengaji dan belajar.
“Saya pernah ingin bekerja part-time, tapi tidak diizinkan oleh orangtua. Karena saya juga sambil nyantri, mereka hanya minta saya fokus pendidikan. Padahal saya tahu kondisi ekonomi sedang tidak stabil,” tuturnya.
Dua mahasiswa, dua kisah berbeda, namun disatukan oleh benang merah yang sama ketidakpastian masa depan akibat himpitan ekonomi.
Titik terang muncul saat keduanya dinyatakan lolos seleksi Beasiswa Cendekia BAZNAS (BCB). Program bantuan dana pendidikan dari para muzaki yang menyalurkan dananya melalui Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) ini menjadi solusi konkret atas ancaman putus kuliah yang mereka hadapi.
Makna Beasiswa bagi Dua Mahasiswa
Dana zakat yang diterima mengubah cara pandang Dzunnurain terhadap dunia secara drastis. Ia tak lagi melihat pendidikan sebagai beban biaya melainkan sebuah amanah pendidikan yang diwujudkan melalui prestasi akademik.
Zakat memberinya keleluasaan waktu untuk fokus pada pengembangan akademik dan kreativitas, yang sebelumnya tersita untuk bekerja. Transformasi itu pun nyata dan berdampak masif.
Dari seorang mahasiswa penjaga warung yang nyaris putus asa, Dzunnurain menjelma menjadi sosok berprestasi yang lapar dengan karya. Ia tak menyia-nyiakan amanah umat tersebut. Dengan ketenangan finansial yang kini dimilikinya, Dzunnurain mulai merintis Harian Cendekia, sebuah portal media online (www.hariancendekia.com) yang menekankan pada jurnalisme warga dan literasi digital.
“Visi saya membangun media yang kritis dan edukatif. Dukungan BAZNAS memberi ketenangan finansial dan ruang berpikir, sehingga saya bisa fokus mengembangkan media ini secara konsisten dan independen,” jelasnya penuh semangat. Ia ingin membuktikan bahwa zakat itu produktif, bukan konsumtif.
Tantangan membangun media dari nol bukanlah hal mudah. Keterbatasan modal dan kepercayaan publik menjadi kerikil tajam dalam perjalanannya. Namun, nilai ketangguhan yang ia pelajari dari tempaan hidup dan pembinaan beasiswa membuatnya tak mudah patah arang.
“Membangun media dari nol berarti siap jatuh berkali-kali. Namun, nilai ketangguhan, disiplin, dan tanggung jawab yang ditanamkan melalui program beasiswa menjadi fondasi mental saya,” tambahnya.
Sementara itu, bagi Safira, beasiswa ini adalah tiket untuk melampaui batas kemungkinannya. Tak lagi pusing memikirkan biaya semester atau dispensasi keuangan, ia menumpahkan seluruh energinya pada dunia literasi yang ia cintai. Hasilnya gemilang dan membanggakan.
Safira berhasil menyabet Juara 3 Lomba Menulis Cerpen Nasional, menerbitkan buku cerita anak di Balai Bahasa Jawa Timur, hingga mempublikasikan artikel ilmiah di prosiding internasional Universitas Teknologi Malaysia. Tak hanya itu, ia juga membuktikan kecerdasan akademiknya dengan menyelesaikan studi lebih cepat, hanya dalam kurun waktu 3,5 tahun atau 7 semester.
Karya cerpen Safira yang memenangkan penghargaan nasional itu bukanlah fiksi tanpa isu. Di sana, ia menuangkan refleksi sosiologis masyarakat Madura yang ia saksikan sendiri. Kisahnya mengangkat tentang kerinduan seorang anak rantau yang rela meninggalkan rumah demi kelangsungan hidup keluarga, dan seorang ibu yang menahan rindu di kampung halaman.
“Menulis cerita anak adalah cara saya ‘membayar’ ketidaktahuan masa kecil saya karena minimnya fasilitas buku di pelosok. Saya tumbuh di daerah yang sangat terbatas fasilitasnya,” ujar Safira.
Bagi Safira dan Dzunnurain, zakat menjadi instrumen pendukung yang memungkinkan mahasiswa berkarya secara optimal tanpa terkendala biaya. Keduanya jadi bukti hidup bahwa ketika dana zakat dikelola dengan tepat, ia mampu mengubah kendala ekonomi menjadi capaian prestasi.

Pembinaan Karakter Awardee
Keberhasilan Dzunnurain dan Safira, serta para penerima manfaat lainnya, bukanlah sebuah kebetulan semata. Di balik deretan prestasi mereka, ada sistem pembinaan yang dirancang matang, terstruktur, dan berkelanjutan. Program Beasiswa Cendekia BAZNAS (BCB) di Unisma menjadi candradimuka bagi pembentukan karakter.
Abdul Halim Fathoni, S.Si., M.Pd., selaku pembina Beasiswa Cendekia BAZNAS di Unisma, memegang peran kunci dalam memoles berlian-berlian muda ini. Ia memastikan bahwa setiap rupiah dana zakat yang disalurkan berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia penerimanya.
Para penerima beasiswa, atau yang akrab disebut awardee, tidak dilepas begitu saja setelah menerima dana. Mereka mendapatkan fasilitas pementoran rutin setiap bulan. Sesi ini menjadi ruang untuk mengembangkan bakat, mendiskusikan tantangan akademik, hingga memperkuat mentalitas kepemimpinan.
“Program ini tidak hanya membantu finansial, tetapi membuka banyak pintu untuk pengalaman yang baru,” jelas Abdul Halim Fathoni.
Pembinaan ini juga mendorong mahasiswa lebih aktif berpartisipasi dalam organisasi dan terlibat langsung dalam program sosial kemasyarakatan. Sistem mentoring ini memastikan bahwa dana zakat tidak hanya habis untuk biaya SPP atau kebutuhan konsumtif lainnya, tetapi juga membentuk mentalitas penerimanya agar siap menjadi pemimpin di masa depan.
“Mereka diajarkan bahwa menerima zakat bukanlah sebuah kehinaan, melainkan sebuah amanah berat yang harus dibayar kembali dengan kontribusi nyata kepada umat,” jelas Fathoni.
Upaya Mencetak Entrepreneur Lewat Aroma Zekofi
Komitmen Unisma dalam mengelola amanah beasiswa ini juga ditegaskan oleh Wakil Rektor 3 Bidang Kemahasiswaan, Keagamaan, dan Alumni, Dr. H. Muhammad Yunus, M.Pd. Dalam sebuah wawancara di ruang kerjanya, Dr. Yunus menjelaskan betapa ketatnya proses seleksi untuk menjadi bagian dari keluarga besar BCB.
“Tentu setiap awardee baik itu yang ongoing maupun yang full scholarship di Unisma itu dalam pembinaan kami. Unisma tiap tahun alhamdulillah dipercaya mengelola 10 awardee BCB. Dari 10 itu, tentu yang terpilih adalah mahasiswa yang memang memiliki prestasi baik akademik maupun non-akademik,” ujar Dr. Yunus.
Unisma tidak main-main dalam memantau perkembangan mahasiswanya. Setelah diterima, pemantauan terus dilakukan secara berkala. Mahasiswa mendapatkan coaching khusus dari BAZNAS pusat terkait leadership, communication skill, hingga pengabdian masyarakat.
“Ini penting karena mereka dipersiapkan menjadi pemimpin masa depan, bukan sekadar lulusan sarjana,” tambah Wakil Rektor 3 Unisma.
Salah satu inovasi program yang paling menarik perhatian dan disoroti oleh Dr. Yunus adalah “Zekofi” (Zakat Coffee). Program ini merupakan terobosan kewirausahaan dari BAZNAS yang diimplementasikan di lingkungan kampus Unisma.
Uniknya, program ini menggabungkan pemberdayaan ekonomi dengan mahasiswa Fakultas Agama Islam (FAI), mematahkan stereotip bahwa mahasiswa agama hanya berkutat pada kitab kuning.
“Ada dua awardee dari mahasiswa FAI yang dilatih menjadi barista profesional. Unisma menyiapkan lahannya, lokasinya strategis di pojok utara perpustakaan. BAZNAS menyiapkan peralatannya yang lengkap,” cerita Dr. Yunus dengan antusias.
Model bisnis Zekofi dirancang untuk keberlanjutan (sustainability). Untuk bulan pertama, seluruh bahan baku disiapkan oleh BAZNAS sebagai modal awal. Selanjutnya, hasil keuntungan dari penjualan kopi selama satu bulan pertama digunakan kembali untuk membeli bahan baku dan, yang terpenting, untuk kesejahteraan penerima beasiswa itu sendiri.
“Ini melatih entrepreneurship secara riil. Bisnis itu mengutamakan keberlanjutan. Jadi, ketika mahasiswa ini lulus nanti, usaha ini harus ada generasinya yang meneruskan. Tidak berhenti di satu angkatan,” jelas Dr. Yunus. Aroma kopi yang mengepul dari pojok perpustakaan Unisma kini bukan sekadar aroma kafein, melainkan aroma kemandirian ekonomi yang diracik dari dana zakat.
Zakat Sebagai Instrumen Human Capital
Fenomena kebangkitan mahasiswa seperti Dzunnurain dan Safira, serta inovasi kewirausahaan Zekofi, mengonfirmasi adanya pergeseran paradigma yang signifikan dalam pengelolaan zakat di Indonesia. Zakat kini tidak lagi sekadar dipandang sebagai amal karitatif untuk memadamkan api kelaparan sesaat, melainkan berfungsi sebagai instrumen strategis pembangunan human capital (modal manusia).
Dr. Rahmad Hakim, S.H.I, M.MA, seorang pakar Manajemen Zakat dan Ekonomi Syariah dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), memberikan analisis mendalam mengenai fenomena ini. Penulis buku “Religiusitas, Ekonomi Syariah dan Kedermawanan” ini menegaskan bahwa dalam perspektif ekonomi Islam modern, dana zakat memiliki daya ungkit (leverage) yang luar biasa jika dikelola dengan benar.
“Beasiswa BAZNAS memiliki peran yang sangat strategis dalam memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Pendidikan tinggi adalah kunci untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang. Bagi banyak keluarga di garis kemiskinan, biaya pendidikan adalah tembok penghalang raksasa. Zakat meruntuhkan tembok itu,” ujar Dr. Rahmad Hakim.
Menurutnya, ada perbedaan fundamental antara zakat pendidikan dengan bantuan sosial (bansos) konvensional.
“Bantuan sosial konvensional sering kali cenderung bersifat konsumtif dan jangka pendek. Sebaliknya, zakat yang disalurkan melalui pendidikan menekankan pada pemberdayaan jangka panjang. Ini adalah investasi pada manusia atau human capital,” jelasnya.
Dr. Rahmad Hakim juga menyoroti multiplier effect dari program seperti BCB. Ketika seorang mustahik (penerima zakat) bertransformasi menjadi sarjana yang mandiri, ia tidak hanya mengubah nasib dirinya sendiri. Ia memutus rantai kemiskinan di keluarganya.
Lebih jauh lagi, jika ia menjadi pengusaha atau inovator seperti Dzunnurain dengan media rintisannya atau mahasiswa pengelola Zekofi, ia menciptakan lapangan kerja baru.
“Inilah yang disebut sebagai lahirnya Game Changer bagi lingkungannya. Seiring meningkatnya kapasitas individu, mereka menjadi pemimpin atau pengusaha yang menstimulasi perekonomian lokal. Jika seorang mustahik yang dulunya terbatas oleh kemiskinan kemudian menjadi pengusaha sukses, ia berpotensi menjadi muzaki baru di masa depan,” paparnya.
Untuk mencetak lebih banyak intelektual organik, sosok yang sukses secara pribadi sekaligus mampu membangun ekonomi umat Dr. Rahmad menyarankan penguatan strategi tata kelola zakat.
“Fokus pada pendidikan dan pelatihan keterampilan yang relevan dengan pasar kerja sangat krusial. Selain itu, pemberdayaan kewirausahaan juga harus diperkuat agar penerima zakat bisa mandiri secara ekonomi,” sarannya.
Menjaga Nyala Harapan
Keberhasilan program pemberdayaan ini tidak lepas dari payung hukum yang kuat dan komitmen pemerintah daerah. Ketua BAZNAS Kota Malang, Prof. Dr. H. Kasuwi Saiban, M.Ag., menegaskan bahwa pendistribusian dana zakat adalah bentuk pertanggungjawaban amanah yang harus tepat sasaran, sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat.
Di Kota Malang, sinergi antara BAZNAS dan pemerintah kota berjalan harmonis untuk memastikan tidak ada anak bangsa yang putus sekolah karena biaya.
“Dana zakat yang dititipkan para muzaki kami salurkan kepada masyarakat yang membutuhkan, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan sesaat, tetapi juga untuk menjaga keberlangsungan hidup dan mendorong kemandirian,” ujar Prof. Kasuwi.
Data berbicara lebih nyaring daripada janji. Berdasarkan data resmi dari BAZNAS Kota Malang, jangkauan pilar “Malang Kota Cerdas” mengalami peningkatan yang sangat signifikan.
“Tercatat pada tahun 2024, sebanyak 602 pelajar dan mahasiswa telah menerima manfaat, naik dua kali lipat dibanding periode sebelumnya,” ungkap narasi resmi BAZNAS.
Pemerintah menyadari bahwa zakat adalah instrumen redistribusi kekayaan yang paling efektif jika dikelola secara profesional. Program seperti BCB, Rumah Sehat BAZNAS, Z-Chicken, hingga Santripreneur adalah bukti nyata bahwa zakat dapat dikelola secara modern, transparan, akuntabel, dan berdampak sistemik bagi kesejahteraan umat. [dan/beq]






