Yogyakarta (beritajatim.com)– Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat mendekati Rp17.000 per dolar AS pada pertengahan Maret kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas harga pangan di Indonesia. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena fluktuasi kurs terbukti berdampak langsung pada biaya impor dan harga bahan pokok di dalam negeri.
Indonesia yang masih bergantung pada impor sejumlah komoditas strategis—seperti kedelai, gandum, dan bawang putih—rentan terhadap gejolak nilai tukar. Ketika rupiah melemah, biaya impor meningkat dan pada akhirnya berpotensi mendorong kenaikan harga pangan di tingkat konsumen.
Dampak Berbeda pada Setiap Komoditas
Dosen Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Hani Perwitasari, menjelaskan bahwa pengaruh pelemahan rupiah terhadap harga pangan tidak bersifat seragam. Besarnya dampak bergantung pada jenis komoditas dan ketersediaannya di pasar domestik.
Komoditas dengan pasokan cukup cenderung lebih tahan terhadap tekanan nilai tukar. Sebaliknya, komoditas dengan pasokan terbatas akan lebih mudah mengalami lonjakan harga. Secara umum, fluktuasi kurs dapat memicu kenaikan harga pangan sekitar 2 hingga 8 persen, tergantung jenis produk.
Komoditas Rentan: Daging hingga Susu
Beberapa jenis pangan dinilai lebih sensitif terhadap pelemahan rupiah, terutama produk yang sulit digantikan. Daging, telur, dan susu termasuk dalam kategori ini karena memiliki ketergantungan tinggi terhadap pasokan tertentu dan tidak mudah disubstitusi.
Ketika biaya produksi dan distribusi meningkat akibat kurs, kenaikan harga pada komoditas ini cenderung lebih cepat dirasakan oleh masyarakat.
Ketergantungan Impor Jadi Titik Lemah
Struktur pangan nasional yang masih mengandalkan impor turut memperbesar risiko. Saat produksi dalam negeri belum mencukupi, impor menjadi solusi untuk menjaga pasokan. Namun, di sisi lain, hal ini membuka celah kerentanan terhadap dinamika ekonomi global.
Semakin besar porsi impor suatu komoditas, semakin tinggi pula risiko lonjakan harga saat nilai tukar bergejolak.
Biaya Produksi Ikut Terdongkrak
Tak hanya berdampak pada harga pangan, pelemahan rupiah juga meningkatkan biaya produksi di sektor pertanian dan peternakan. Banyak input produksi seperti pakan, pupuk, dan bahan baku lain yang terhubung dengan pasar global.
Kenaikan harga input tersebut akan meningkatkan biaya produksi secara keseluruhan, yang pada akhirnya dapat diteruskan ke harga jual di tingkat konsumen.
Strategi Jangka Pendek dan Panjang
Dalam jangka pendek, pemerintah perlu fokus pada pengendalian harga dan menjaga ketersediaan pasokan. Hal ini dapat dilakukan dengan memperkuat sistem data pangan nasional agar kebijakan impor lebih tepat sasaran.
Sementara itu, dalam jangka panjang, penguatan produksi dalam negeri menjadi solusi utama. Dukungan terhadap petani melalui akses pembiayaan, subsidi pupuk dan benih, serta asuransi pertanian perlu ditingkatkan.
Selain itu, peran masyarakat juga penting. Meningkatkan konsumsi produk lokal dapat membantu memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor. [aje]






