Surabaya (beritajatim.com) – Pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga minyak mentah (ICP) menjadi bom waktu bagi kondisi fiskal Indonesia di tahun 2024.
Menurut Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro, kombinasi ganda ini berpotensi memperlebar defisit APBN.
“Setiap peningkatan harga minyak sebesar 1 USD per barel memang meningkatkan pendapatan negara sekitar Rp 3,6 triliun,” jelas Komaidi.
“Namun, di sisi lain, terdapat lonjakan belanja negara sebesar Rp 10,10 triliun. Akibatnya, defisit APBN 2024 berpotensi bertambah Rp 6,50 triliun untuk setiap kenaikan 1 USD per barel,” tambahnya.
Pelemahan rupiah memperburuk keadaan. Ketika rupiah melemah, biaya impor energi seperti minyak dan gas menjadi lebih mahal.
“Hal ini membebani subsidi energi yang ditanggung pemerintah, sehingga menambah tekanan pada defisit APBN,” paparnya.
Lebih lanjut, Komaidi menyoroti dampak inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga energi. “Inflasi dapat menggerus daya beli masyarakat dan menghambat pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini semakin memperparah situasi fiskal yang sudah tertekan,” jelasnya.
Pemerintah perlu mengambil langkah strategis untuk meredam dampak ganda ini. Diversifikasi sumber energi dan peningkatan efisiensi penggunaan energi menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan pada impor.
“Pemerintah juga perlu mempertimbangkan penyesuaian subsidi energi secara hati-hati agar tepat sasaran dan tidak memperburuk inflasi,” sarannya.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global ini, disiplin fiskal menjadi semakin penting. “Pemerintah perlu menjaga disiplin anggaran dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya,” pungkas Komaidi.
“Upaya ini esensial untuk menjaga stabilitas fiskal dan meminimalkan dampak negatif pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak terhadap perekonomian Indonesia,” tandasnya. [rea]






