Baiklah. Gelora Bung Tomo Surabaya memang rumah yang tidak ramah bagi tuan rumah Persebaya. Hingga pekan 21 Super League 2025-26. Persebaya lebih banyak menderita kekalahan di kandang (3 kali) dibandingkan saat bertandang (1 kali).
Rekor kandang Persebaya pada musim 2025-26 dicederai PSIM 0-1 dan Persija 1-3. Bhayangkara Presisi Lampung FC menorehkan luka baru di Gelora Bung Tomo, Sabtu (14/2/2026). Dua gol yang disarangkan Henri Doumbia pada menit 26 dan Moussa Sidibé pada menit 45+2, hanya dibalas satu gol oleh Mihailo Perovic pada menit 64.
Dari 11 pertandingan kandang musim ini, Persebaya hanya memetik 18 poin dari kemungkinan 33 poin. Sementara dari 10 pertandingan tandang, tim Bajul Ijo bisa memetik 17 poin. Hanya terpaut satu poin lebih banyak.
Bagi penonton sepak bola netral dan federasi, banyaknya tim tuan rumah yang tumbang di kandang adalah kabar bagus, karena menunjukkan faktor tuan rumah bukan lagi faktor ‘X’ untuk memenangi pertandingan. Ini menepis anggapan selama bertahun-tahun dalam sepak bola Indonesia bahwa status tuan rumah adalah faktor tak terelakkan dalam memenangi pertandingan.
Bisingnya penonton yang mendukung tim tuan rumah dan memberikan tekanan psikis kepada pemain tim lawan dipersepsikan bisa mempengaruhi jalannya pertandingan. Arsene Wenger, pelatih Arsenal, pernah mengatakan, kekuatan terbesar Liverpool dalam menggapai kesuksesan dalam kejuaraan Eropa adalah publik Anfield.
Seburuk apapun performa di level domestik, Liverpool sering sukses di level benua. Lebih sedikitnya jumlah pertandingan kejuaraan Eropa dan adanya format knockout atau fase gugur yang separuhnya dilakukan di Anfield, membuat pemain lebih bernyali dengan semangat yang terdongkrak. Mereka disetel dengan mental ‘now or never‘. Sekarang atau tidak sama sekali.
Ini berbeda dengan liga domestik yang memiliki jumlah pertandingan jauh lebih banyak dengan format kompetisi penuh. Faktor tuan rumah memiliki dampak lebih kecil untuk merebut trofi, karena ini bagai sebuah lari maraton yang membutuhkan manajemen taktik lebih kompleks dengan lawan lebih beragam.
Namun di Indonesia, bukan hanya kebisingan yang ditakuti tim tamu. Masih adanya kebiasaan pendukung tuan rumah yang melakukan teror dengan melemparkan benda-benda keras sebelum dan selama pertandingan, maupun turun ke lapangan untuk mengintimidasi pemain lawan dan wasit, jelas lebih mengerikan dan menjatuhkan mental daripada sekadar kebisingan.
Seringkali perasaan tidak aman dan nyaman membuat wasit pada akhirnya lebih berpihak kepada tuan rumah (tentu saja kita tidak memperhitungkan faktor sogokan di sini). Bukan rahasia lagi jika ada kredo ‘tim tuan rumah tidak boleh kalah’ yang seringkali memicu keluarnya keputusan ‘penalti ajaib’ pada menit-menit krusial untuk menyelamatkan tim tuan rumah.
Publik sepak bola Surabaya sudah lama meninggalkan cara-cara intimidatif kekerasan dalam mendukung Persebaya. Reputasi Bonek yang lekat dengan kekerasan di stadion sudah jauh terkikis, terutama setelah Persebaya kembali ke level tertinggi kompetisi sepak bola Indonesia pada 2018. Kini Surabaya menjadi tempat yang nyaman untuk menyaksikan sepak bola.
Sejumlah kekalahan direspons Bonek dengan hujatan terhadap wasit dan pemain Persebaya sendiri tanpa ada hasrat menindaklanjuti dengan kekerasan. Praktis tim tamu dan suporternya tidak mengalami teror fisik saat bertanding di Surabaya. Bahkan selama dua musim terakhir, tim Arema tidak perlu lagi menumpang kendaraan taktis kepolisian untuk ke Gelora Bung Tomo.
Bonek lebih memilih berkonsentrasi menyalakan semangat pemain Persebaya dengan meningkatkan volume suara ‘chant‘ di tribun. Sesuatu yang dalam beberapa kesempatan tidak banyak membantu Persebaya untuk meraih poin sempurna.
Dengan mengabaikan data 17 hasil pertandingan berstatus kandang pada 2021-2022 (kompetisi pasca Covid tak dihadiri penonton) dan 12 hasil pertandingan pada 2022-23 (berstatus tanpa penonton pasca Tragedi Kanjuruhan), tercatat Persebaya mengalami 17 kekalahan dan 27 hasil imbang dalam 86 pertandingan kandang sejak 2018.
Selama tujuh musim kompetisi, lebih dari separuh pertandingan kandang gagal dimanfaatkan Persebaya untuk memetik poin penuh!
Dari kemungkinan maksimal 258 poin, Persebaya kehilangan 105 poin gara-gara kalah dan imbang di kandang, atau 40,69 persen.
Jika dibandingkan dengan Persib Bandung yang menjuarai Liga Indonesia dua kali berturut-turut, kemampuan Persebaya memanfaatkan laga kandang jauh tertinggal. Sejak 2018 hingga pekan 21 Super League 2025-26, Persib hanya mengalami 11 kekalahan dan 21 hasil imbang. Dari potensi 258 poin, mereka hanya kehilangan 75 poin atau 29 persen.
Faktor Home Advantage Mulai Hilang
Ada banyak faktor yang membuat home advantage tak lagi berpengaruh, setidaknya bagi Persebaya. Kondisi lapangan yang bagus dan terawat seperti di Gelora Bung Tomo, memungkinkan semua tim bisa menjalankan taktik permainan dengan baik.
Sebelum kelayakan stadion menjadi persyaratan kandang, setiap tim bisa memanfaatkan kondisi lapangan masing-masing. Tim seperti Persebaya yang suka memainkan bola dari kaki ke kaki dengan cepat dan rapi selalu kesulitan bertanding di stadion yang memiliki lapangan dengan permukaan tak rata, atau becek berat saat hujan turun.
Jarak tribun dengan lapangan di GBT yang lumayan jauh membuat suara penonton tidak sebising saat bermain di Stadion Gelora 10 Nopember. Efek kebisingan suporter baru terasa di GBT jika jumlah penonton mencapai setidaknya 20 ribu – 30 ribu orang atau minimal terisi separuh dari kapasitas.
Sementara itu keberpihakan wasit semakin bisa dikurangi, terutama setelah ada VAR. Siaran langsung televisi yang menyebabkan sebuah pertandingan bisa disaksikan jutaan orang membuat wasit lebih berhati-hati dalam memutuskan agar tak memicu kontroversi.
Jadi hari ini dengan semakin tak berdampaknya ‘home advantage‘, maka Persebaya harus memperkuat kualitas tim. Kecermatan pelatih meracik taktik dan ketersediaan pemain yang bermutu menjadi jaminan besarnya potensi kemenangan.
Pada dasarnya laga kandang bukan sekadar pertandingan, namun juga momentum bagi Persebaya untuk memanajemen harapan suporter. Suporter datang untuk menyaksikan kemenangan. Mereka ingin berbahagia di ujung 90 menit. Perkara Persebaya menjadi juara di akhir kompetisi, itu sebuah keniscayaan dari konsistensi performa.
Ketika Persebaya tidak bisa memanfaatkan momentum di kandang, maka dukungan bisa berbalik menjadi tekanan. Tidak hanya untuk sebelas pemain di lapangan dan jajaran pelatih, namun juga manajemen secara keseluruhan. Home advantage menjadi sebuah kerugian pada akhirnya. [wir]
Rekor Kandang Persebaya
Musim 2025-26
11 pertandingan
5 kemenangan
3 seri
3 kekalahan
Agregat gol 20:14
Rata-rata Penonton 16.632
Musim 2024-25
17 pertandingan
10 kemenangan
5 seri
2 kekalahan
Agregat gol 27:17
Rata-rata penonton 14.729
Musim 2023-24
17 pertandingan
7 kemenangan
6 seri
4 kekalahan
Agregat gol 21:20
Rata-rata penonton 8.919
Musim 2022-23
5 pertandingan
2 kemenangan
1 seri
2 kekalahan
Agregat gol 6:5
Rata-rata penonton 16.295
Musim 2020
2 pertandingan
1 kemenangan
1 seri
0 kekalahan
Agregat 4:5
Rata-rata penonton 31.114
Musin 2019
17 pertandingan
7 kemenangan
9 seri
1 kekalahan
Agregat gol 33:19
Rata-rata penonton 16.472
Musim 2018
17 pertandingan
11 kemenangan
2 seri
4 kekalahan
Agregat gol 30:13
Rata-rata penonton 28.536






