Ponorogo (beritajatim.com) – Rian Priya Handoko, pemuda asal Kabupaten Ponorogo rela merogoh ratusan juta dari kocek sendiri untuk membuat penangkaran burung merak hijau. Menangkar burung merak bukan perkara yang mudah.
Selain harganya yang cukup mahal, menangkar burung langka dan dilindungi ini harus sesuai dengan regulasi yang ditetapkan Pemerintah. Sehingga jarang sekali masyarakat mau menangkar burung yang bulunya untuk bahan pembuatan Reog itu.
“Kepingin menangkar merak hijau ya karena keindahan dari burung ini,” kata Rian, Sabtu (15/7/2023).
Awal mula kecintaan Rian terhadap burung merak ketika mengunjungi temannya sesama pecinta burung di Madiun. Di sana, dia melihat temannya menangkar burung merak hijau. Rian semakin takjub saat burung tersebut mengepakkan bulu meraknya, terlihat sangat indah.
“Saat melihat burung merak hijau, milik teman saya di Madiun. Sangat indah, saat melihat burung itu mengepakkan bulu-bulunya yang indah,”ungkap seorang apoteker tersebut.
BACA JUGA:
Tiket Online Festival Nasional Reog Ponorogo Laris Manis
Dirinya sudah menangkar burung merak hijau sejak setahun yang lalu. Hingga saat ini, Rian sudah memiliki burung merak hijau sebanyak 3 pasang.
Satu pasang burung merak yang pertama kali dia beli dengan harga Rp50 juta dengan usia sudah 3 tahun. Kemudian beli lagi dengan harga Rp30 juta dan Rp25 juta dengan usia sekitar 2 tahun.
Sejak mulai memelihara burung merak itu, Rian juga berproses untuk mengurus izinnya ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur (Jatim).
“Supaya tidak menyalahi aturan, usai dapatkan burung meraknya, saya langsung mengurus perizinan penangkaran merak ke BKSDA Jatim,” kata bacaleg dari Partai Perindo Dapil 4 Ponorogo tersebut.
Ke depan, Ia berkeinginan bahwa penangkaran yang dilakukan di rumahnya, Desa Galak Kecamatan Slahung Ponorogo ini semakin hari semakin berkembang. Semakin banyak merak hijau yang ditangkarnya. Sehingga, keberadaan burung merak tidak akan punah.
“Rencananya, kalau sudah bisa berkembang semakin banyak, penangkaran ini akan dijadikan wisata edukasi,” katanya.
BACA JUGA:
Ini Jadwal Festival Nasional Reog Ponorogo 2023
Masyarakat atau generasi penerus harus tahu, asal muasal bakan baku dadak merak yang selama ini dilihatnya dikesenian Reog. Mereka, terutama anak-anak yang merupakan generasi penerus bisa melihat langsung burung merak hijau yang sangat indah.
Dengan semakin banyak merak yang akan ditangkar, diharapkan bisa untuk mencukupi kebutuhan bulu merah untuk pembuatan dadak merak dalam kesenian Reog Ponorogo. Sebab, dewasa ini tahu, bahan baku bulu merah didatangkan dari India.
“Jangan salah persepsi, bulu merak untuk bahan baku reog itu tidak dicabuti dari burungnya. Tetapi bulu-bulu itu rontok sendiri setelah birahi atau kawin dengan pasangannya,” pungkasnya. [end/beq]






