Surbaya (beritajatim.com) – Film horor Sewu Dino telah menjadi salah satu film yang paling ditunggu kehadirannya di tahun ini.
Setelah sukses dengan KKN di Desa Penari, film ini yang diangkat dari thread Twitter penulis yang sama, Simpleman, juga diharapkan dapat melejit.
Sewu Dino menjanjikan sensasi horor yang lebih mengerikan dibandingkan KKN di Desa Penari. Namun, apakah benar demikian?
Baca Juga: Jadwal Film Guardians of The Galaxy Vol 3 di Gresik, Lamongan, Tuban, dan Bojonegoro
Sinopsis Film Sewu Dino
Film ini berlatar tahun 2003 dan mengisahkan seorang wanita bernama Sri (diperankan oleh Mikha Tambayong) yang mencari pekerjaan untuk membiayai pengobatan ayahnya.
Dia kemudian melamar pekerjaan di kediaman Karsa Atmojo (diperankan oleh Karina Suwandhi) yang misterius. Sri dan dua pekerja lainnya, Erna (diperankan oleh Givina Lukitha) dan Dini (diperankan oleh Agla Artalidia), dibawa ke kabin tengah hutan tanpa banyak informasi. Di sana, mereka mengetahui bahwa tugas mereka adalah melakukan ritual basuh sedo.
Ritual tersebut melibatkan pemandian tubuh Dela (diperankan oleh Gisellma Firmansyah), cucu Karsa yang terkena santet, di mana tubuhnya dirasuki oleh jin bernama Sangarturih.
Konon, santet tersebut akan terangkat jika ritual basuh sedo dilakukan selama 1000 hari. Tugas utama dari tiga protagonisnya adalah menjaga Dela tetap terikat di tempat tidurnya.
Film Sewu Dino ini membawa kisah dunia santet yang sudah tidak asing lagi di telinga rakyat Indonesia. Mitologi tersebut berbalut latar belakang Jawa yang kental, membuat film ini mempunyai segudang potensi.
Baca Juga: Jadwal Film Sewu Dino di Kediri, Nganjuk, Madiun dan Ngawi Hari Ini
Review Film Sewu Dino
Harapan yang terbawa sejak proyek ini diumumkan bahkan digadang-gadang menjadi salah satu kisah terkelam dari tulisan Simpleman, harus terbuang dan terkubur semenjak rumah produksi menetapkan film ini mempunyai rating remaja (R).
Sayangnya, potensi yang disiapkan seakan terbuang percuma. Kimo Stamboel selaku sutradara seakan masih tertahan dalam proyek ini.
Gelaran visual dan scoring di beberapa bagian hanya mampu menambah sedikit suntikan kengerian ketika menonton, di balik masih bertaburnya inkonsistensi karakter yang ditampilkan dalam film ini.
Film ini mencoba atmosferik tetapi tidak terasa menegangkan, menjadi parade horor berujung tak mengejutkan, dan malah berakhir dengan adegan-adegan repetitif yang terasa melelahkan.
Tetapi, Sewu Dino tetap merupakan peningkatan dari film KKN di Desa Penari yang dirilis tahun lalu dan salah satu film yang patut ditonton di musim Lebaran kali ini.
Baca Juga: Memaknai Perang dari Film Non Patriotik
Kekurangan Film Sewu Dino
Namun demikian, meskipun Sewu Dino mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan KKN di Desa Penari, tetap saja film ini belum mampu memenuhi ekspektasi yang diharapkan oleh penonton.
Meskipun konsep dunia santet yang diusung mempunyai potensi yang cukup besar, namun terlalu banyak kelemahan dalam penyampaian ceritanya.
Karakter-karakter yang kurang konsisten dan dialog Bahasa Jawa yang terasa palsu, serta adegan-adegan repetitif yang terasa melelahkan membuat film ini terkesan biasa-biasa saja. Hal ini sangat disayangkan mengingat potensi yang dimiliki oleh film ini.
Kimo Stamboel sebagai sutradara juga terasa belum mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya dalam mengarahkan para pemainnya. Meskipun begitu, visual dan scoring film ini cukup memukau dan menambah kesan misterius dari film ini.
Secara keseluruhan, meskipun belum mampu memenuhi ekspektasi yang diharapkan oleh penonton, Sewu Dino tetap patut ditonton, terutama bagi pecinta film horor. Film ini juga merupakan peningkatan dari film KKN di Desa Penari yang dirilis tahun lalu. (ian)






