Surabaya (beritajatim.com) – Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Prof. Achmad Jazidie bersama jajaran petinggi kampus, melakukan kunjungan langsung ke rumah sejumlah mahasiswa penerima beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIPK).
Kunjungan ini bertujuan untuk memastikan program beasiswa dari pemerintah tersebut tepat sasaran, sekaligus menjalin kedekatan dengan para mahasiswa.
Dalam kunjungan tersebut, Jazidie berkesempatan berinteraksi langsung dengan dua mahasiswa penerima KIPK, Nafisah Galuh Aurellia dan M. Faisal.
Keduanya berbagi cerita tentang perjuangan mereka yang penuh tantangan, hingga akhirnya bisa menempuh pendidikan tinggi. Rektor menyatakan rasa bangga dan bahagia melihat semangat juang mereka.
Nafisah Galuh, mahasiswa D3 Keperawatan mengungkapkan kebahagiaannya bisa menjadi mahasiswa Unusa. Gadis asal Sidoarjo ini tidak menyangka mimpinya untuk kuliah bisa terwujud melalui beasiswa KIPK.
Perjalanan Galuh tidaklah mudah. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia telah kehilangan sosok ayah. Ia harus berjuang bersama ibu dan enam saudaranya. Meski dalam keterbatasan, Galuh tetap gigih mengejar cita-citanya.
“Awalnya saya ingin jadi TNI, tapi ayah dulu pernah bilang kalau mau jadi TNI setidaknya punya keterampilan atau bakat. Akhirnya saya diarahkan untuk masuk jurusan kesehatan,” cerita Galuh, ditulis Jumat (5/9/2025).
Keputusan untuk melanjutkan kuliah di bidang keperawatan adalah bentuk konsistensi Galuh dalam mengejar mimpinya. Ibunya, Lilis Suryati, tak mampu menahan haru saat mengetahui putrinya lolos beasiswa. “Alhamdulillah, saya sangat senang akhirnya anak saya ada yang kuliah,” ujarnya.
Senada dengan Galuh, M. Faisal, mahasiswa S1 Manajemen, juga memiliki kisah perjuangan. Keinginan untuk kuliah muncul saat ia duduk di kelas 12 SMK. Ia terinspirasi untuk membuka usaha di masa depan. Sempat diragukan oleh teman-temannya, Faisal tetap teguh pada keputusannya. “Sempat diragukan juga sama temen-temen, katanya ‘ngapain kuliah’,” tutur Faisal.
Faisal yang sejak kecil sudah ditinggal ibunya, harus berjuang bersama ayahnya yang seorang buruh harian. Bahkan, ia sempat tidak mau sekolah dasar karena merasa minder usianya yang lebih tua dari teman-temannya.
Ayahnya, Budiman, dengan penuh kasih terus mendorong Faisal untuk tidak menyerah. “Saya cuma mau yang terbaik buat anak saya. Alhamdulillah dan ikut senang karena baru dia yang lanjut kuliah,” ungkap Budiman.
Kisah Galuh dan Faisal ini menjadi cerminan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita. Unusa berkomitmen untuk terus mendukung mahasiswa berprestasi dari latar belakang ekonomi kurang mampu melalui program beasiswa seperti KIPK. [ipl/suf]






