Johor (beritajatim.com) – Rektor Untag Surabaya, Prof. Mulyanto Nugroho menilai konsep Perpustakaan Tunku Tun Aminah (TTA) Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM) bisa menjadi rujukan untuk pengembangan layanan perpustakaan kampus ke depan.
Penilaian itu ia sampaikan usai meninjau langsung fasilitas perpustakaan akademik yang disebut sebagai salah satu yang terbesar di Asia Tenggara.
Prof. Nugroho mengatakan perpustakaan Untag Surabaya selama ini sudah unggul dan terakreditasi A, namun belum memiliki model penyajian hasil riset dan inovasi seperti yang ia lihat di UTHM.
“Tadi saya melihat pameran robot dan berbagai inovasi. Ini menjadi inspirasi untuk Untag Surabaya. Hasil riset kita, alat-alat kita, akan kita tampilkan seperti itu,” ujarnya, Sabtu (29/11/2025).
Ia menilai konsep pameran terbuka di perpustakaan membuat inovasi kampus lebih mudah diakses publik. Menurutnya, perpustakaan modern tidak cukup hanya menyediakan buku dan jurnal secara digital.
“Kita memang sudah punya bahan online, tapi model-model seperti ini banyak inovasinya. Kita belum sampai ke situ,” kata Mulyanto.
Perpustakaan UTHM berdiri di atas lahan 16.000 meter persegi dan mampu menampung hingga 300.000 judul buku serta jutaan koleksi digital.
Chief Librarian UTHM, Zaharah Abd Samad menjelaskan perpustakaan menyediakan lebih dari 4 juta bahan rujukan digital yang dapat diakses 24 jam dari dalam maupun luar kampus, termasuk oleh mahasiswa Untag yang melanjutkan studi di UTHM.
UTHM juga memiliki lebih dari satu juta tesis daring, dan keanggotaan otomatis bagi seluruh mahasiswa, serta akses bagi anggota eksternal.
Selain layanan digital, perpustakaan ini memiliki makerspace dengan fasilitas pelatihan desain robotika, model robotik untuk sekolah, hingga kompetisi nasional dan internasional.
Ada pula ruang showcase drone, termasuk drone berkapasitas angkut 200 kilogram yang pernah meraih Malaysia Book of Records. Perpustakaan ini juga menjadi rumah bagi AI Lab hasil kolaborasi dengan Microsoft dan Huawei.
Zaharah menyebut budaya baca tetap menjadi fokus utama UTHM. Setiap April mereka menggelar program ‘Jum Baca 10 Menit’ yang dilaksanakan serentak secara nasional dengan melibatkan sedikitnya 20 perguruan tinggi negeri.
Program literasi lain seperti resensi buku, lomba reading corner fakultas, dan book review di berbagai unit kampus dilakukan untuk mendorong aktivitas membaca.
Menurutnya, minat baca mahasiswa kini tidak dapat dibatasi hanya pada buku cetak. Karena itu perpustakaan menyediakan zona elektronik, lengkap dengan tablet dan ruang baca digital.
“Membaca tidak terbatas pada bahan cetak. Kita perlu mendorong mahasiswa membaca secara daring juga,” kata Zaharah.
Konsep ruang interaktif, experiential learning, hingga integrasi teknologi inilah yang disebut Prof. Nugroho sebagai inspirasi utama. Ia menegaskan model perpustakaan seperti UTHM berpotensi diadopsi untuk memperkuat ekosistem riset dan inovasi di Untag Surabaya. [ipl/kun]






