Oleh: Restu Aisyah, masyarakat Gen Z — Mahasiswi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya
Pentingnya Reformasi Polri
Udah lima tahun terakhir, Polri tuh sering banget trending, tapi sayangnya bukan trending yang bikin bangga, malah bikin warga tepok jidat. Dari kasus polisi nabrak ojol sampe meninggal, ada yang nyambi jadi bandar narkoba (halo Bripka Khairul Yanto), terus saga drama Korea versi Ferdy Sambo yang bunuh ajudannya sendiri. Eh, polisi lalu lintas juga nggak mau kalah eksis dengan “main damai” di jalan.
Publik makin panas karena aparat sering banget terlalu overacting kalau bubarin demo mahasiswa sama buruh. Kritik dari JATAM (Jaringan Advokat Tambang) juga pedes, katanya polisi lebih rajin jagain bisnis tambang ilegal daripada masyarakat. Ya gimana rakyat nggak ilfeel? Trust ke Polri makin tipis. Seperti dompet di akhir bulan.
Polri punya kode etik, namanya Tribrata. Tapi kadang seperti tinggal nama saja. Harusnya melindungi, malah semprot gas air mata di Stasiun Karet dan kampus Unisba. Harusnya ngademin masyarakat, malah ada warga Desa Segar Wangi yang dipukuli oknum Brimob gara-gara konflik lahan sama perusahaan sawit.
Harusnya hukum adil, tapi kok kasus ibu nyolong susu dihajar 7 tahun, sementara mobil pejabat nyelonong busway malah disenyumin. Ini mah hukum “tajam ke bawah, tumpul ke atas”.
Bayangkan saja, institusi sebesar Polri itu ibarat rumah besar. Kalau ada banyak bocor nggak bisa cuma ditambal seadanya, harus ada renovasi total. Nah, Presiden Prabowo akhirnya bikin tim reformasi Polri buat benerin citra sekaligus balikin kepercayaan publik.
Solusi Pemerintah
Presiden Prabowo akhirnya ngumumin bakal bikin Komite Reformasi Polri. Katanya sih biar adem dan kepercayaan rakyat balik lagi. Komite ini sifatnya sementara, tapi misi-nya harus nyata. Bahkan ada Prof Mahfud MD juga yang diajak gabung. Aman lah, Mahfud kan udah legend kalau urusan hukum dan ngelawan yang nakal-nakal.
Tapi sebelum komite beneran jalan, Polri malah buru-buru bikin Tim Transformasi Reformasi mereka sendiri (17 September 2025). Jadinya agak curiga sih, seperti orang sakit tapi malah tulis resep obat buat dirinya sendiri. Untungnya istana buru-buru klarifikasi kalau Komite Presiden tetep jadi main character, sedangkan tim Polri cuma jadi sidekick biar bisa collab.
Kalau reformasi Polri beneran jalan, masyarakat bisa ngerasa aman lagi dan diperlakukan dengan respect setiap kali ketemu aparat. Citra polisi yang tadinya sering jadi bahan meme di medsos bisa upgrade jadi simbol pengayom dan pelindung beneran.
Buat Polri sendiri, reformasi bakal bikin kerja makin profesional, wibawa institusi tetep terjaga, dan aparat bisa lebih efektif tanpa harus terus-terusan jadi sasaran kritik pedas publik.
Hal yang Harus Direformasi
Prof Mahfud MD pernah bilang di YouTube-nya, Polri sekarang udah lupa kultur pengabdian ke masyarakat. Terlalu arogan, gampang baper, gampang pake kekerasan. Padahal polisi itu harusnya pelayan rakyat, bukan cosplay jadi penguasa.
Susno Duadji (mantan Kabareskrim Polri) juga nambahin, hal paling pertama dibenerin, ya perilaku aparatnya dulu. Percuma bikin aturan baru atau beli teknologi canggih kalau kelakuannya tetep toxic.
Usman Hamid, Direktur Eksekutif Amnesty International, malah bilang akar masalahnya ada di DPR yang lemah banget ngontrol Polri. Parahnya, saat rakyat lagi kecewa sama Polri, DPR malah sibuk nge-gaslight dengan puji-pujian. Jadi, DPR ini wakil rakyat apa brand ambassador Polri?
Intinya, mindset harus berubah. Dari “gue punya senjata, tunduk lo semua” jadi “gue pelayan masyarakat”. Baru deh rakyat percaya lagi, bukan takut. Rakyat pengennya polisi yang humanis, adil, berani bela kebenaran bukan yang malah jadi bodyguard kepentingan elit.
Peran Sebagai Masyarakat
Reformasi Polri itu bukan kerjaan semalam seperti ngerjain tugas SKS, apalagi cuma satu orang doang. Butuh dukungan rakyat, pengawasan ketat dari publik, plus komitmen serius dari pimpinan Polri biar berhasil.
Kalau kita masih pengen polisi jadi pelindung, bukan malah bikin parno tiap ketemu di jalan, ya sebagai masyarakat, Tim Reformasi ini harus kita kawal bareng-bareng. Cuma dengan cara itu kepercayaan publik bisa balik lagi, dan Polri bisa on track ke jalurnya yang asli, yaitu melayani dan melindungi masyarakat dengan profesional, adil, dan nggak pake drama. [but]






