Jombang (beritajatim.com) – Pemuda jangan mau dimarjinalkan, diberi peran pinggiran dalam perubahan peradaban. Karena itu pemuda wajib eksis, mandiri, baik di bidang ekonomi, pendidikan, kebudayaan dan politik. Jika pemuda lemah, dipastikan denyut nadi negeri berhenti. Pemuda harus menjadi agen perubahan.
Itulah kesimpulan diskusi refleksi Sumpah Pemuda, yang digelar oleh Iqra Semesta bekerjasama dengan DeDurian Park, Kamis (27/10/2022). Diskusi dilakukan secara virtual di Kampus Alam DeDurian Park Wonosalam Jombang.
Hadir sebagai narasumber CEO DeDurian Park Yusron Aminulloh, dosen dan Ketua Yayasan Iqra Semesta Bambang Prakoso, pemuda pembelajar dan pengusaha muda Yodhi Setiawan, serta Duta Baca Indonesia Gol A Gong. “Pemuda apabila tidak memperjuangkan perbaikan negeri, bisa dipastikan nafas dan denyut nadi negeri ini akan berhenti,” tegas Yodhi Setiawan.
“Pemuda sebagai nafas zaman harus berkarakter, mandiri, berkapasitas dan memiliki daya saing baik di tingkat lokal mapun global. Momen Sumpah Pemuda ini sudah seharusnya menjadi titik balik perjuangan pemuda era ini untuk mengenali jati dirinya. Sebagai apapun profesinya, perjuangan adalah nafas dari ikrar yang dicetuskan di Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 ,” lanjut Yodhi.
Sementara itu Yusron Aminulloh menegaskan, saatnya pemuda punya peran strategis di segala bidang. Negara cukup membuka peluang selebar-lebarnya. Tidak perlu ada formalisme program khusus pemuda, tapi artifisial. “Pemuda masa depan adalah pemuda yang punya visi kebangsaan, visi masa depan dan mandiri dalam ekonomi dengan daya juang. Dengan ilmu, pemuda tidak hanya bekerja keras, tapi kerja cerdas dan ikhlas. Ini klise, tapi wajib diterjemahkan dalam keseharian,” tegas Yusron Aminulloh yang juga Master Trainer MEP dan CEO DeDurian Park.
Sementara itu, Bambang Prakoso mengatakan, sejarah bangsa ini tidak bisa terlepas dari peranan pemuda. Ijhtihad, ikhtiar, semangat, spirit, jiwa dan raga telah dipersembahkan lewat karya-karya dan tindakan nyata untuk kemerdekaan bangsa, semesta menselebrasi, merayakan, dan mengabadikannya.
“Negera wajib hadir bukan hanya berwacana dan membuat regulasi, tetapi memastikan iplementasi kebijakan dari hulu sampai hilir supaya mengurangi stigma buruk terkait lahirnya kebijakan, harapan pemuda dan kita semua. Sehingga kebijakan yang lahir benar-benar dari rahim kesadaran spirit kolektif membangun peradaban bangsa,” tegas Bambang Prakoso yang dikenal sebagai Aktivis Literasi Jatim ini.
[berita-terkait number=”3″ tag=”sumpah-pemuda”]
Bambang yang juga seorang dosen ini menegaskan bahwa pemuda harus tampil mengambil posisi sebagai agen perubahan, berkeringat, tidak boleh berpangku tangan, memaksimalkan semua potensi, kolaborasi, serta memperluas jejaring memperbanyak modal sosial. Asal mau membaca peluang, lanjutnya, kesempatan masih terbuka lebar.
“Anak muda musti berdaulat terhadap diri sendiri, harus banyak membaca secara tekstual juga kontektual (Iqro Semesta) supaya limpat dan waskito. Harus bisa memca peluang yang ada, anak muda tidak boleh selalu merasa menjadi korban keadaan atau korban kebijakan,” tandasnya.
Bambang mengajak anak muda seangkatannya menyalakan pelita. Tidak boleh terus-terusan mengutuk kegelapan, tugas anak muda berjuang membangun bangsa bukan menggantungkan pada pemerintah.
Pada sisi lain, Gol A Gong, Duta Baca Indonesia mengajak anak muda berkarya tiada henti. Menulis, menggerakkan masyarakat di dunia literasi. “Anak muda wajib menjadi penggerak perubahan. Bangsa ini membutuhkan anak muda kreatif dan inovatif,” ujar penulis novel legendaris Balada Si Roy ini. [suf]






