Surabaya (beritajatim.com) – Mistis atau takhayul sampai saat ini masih dipercayai oleh banyak orang. Salah satunya seperti jika kejatuhan cicak adalah pertanda akan terjadi sebuah kesialan.
Selain itu, penelitian menunjukkan jika banyak orang yang benar-benar percaya terhadap keberadaan kekuatan supernatural. Seperti seseorang yang mampu membaca pikiran hingga memprediksi masa depan, tentu hal ini sangat jarang dimiliki oleh setiap orang.
Meskipun zaman sudah modern, namun pola pikir masyarakat dinilai masih sangat tinggi percaya akan hal-hal yang magis.
Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, ketika Samsudin pemilik padepokan Nur Dzat Sejati yang dianggap dapat menyembuhkan hal gaib. Namun diketahui bahwasannya pengobatan tersebut hanyalah sebuah sulap dan trik, hal ini disampaikan oleh Pesulap Merah dengan memprakterkan ulang melalui chanel Youtubenya.
Mengapa hal-hal mistis kerap dipercaya oleh masyarakat, menurut Guru Besar Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada Heddy Shri Ahimsa-Putra, mengatakan bahwa masyarakat masih menilai beragam hal magis seperti sihir, santet, hingga babi ngepet adalah cara cepat menyelesaikan masalah.
Selain itu, Heddy juga menjelaskan bahwa pola pikir manusia terbagi menjadi empat untuk menghadapi masalah, yakni akal sehat (common sense), magis (upacara atau praktik mempersuasi makhluk gaib), sains (scientific), dan agama (religion). Setiap manusia pun memiliki pola pikir dominan yang berbeda-beda.
[berita-terkait number=”3″ tag=”viral”]
Menurutnya, hal-hal magis juga masih ada hingga kini karena keyakinan masyarakat bahwa langkah tersebut memberikan jawaban lebih cepat daripada cara atau pola pikir lainnya.
Tidak hanya Guru Besar Antropologi Budaya UGM, nyatanya hal serupa disampaikan Akademisi Antropologi Universitas Indonesia Imam Ardhianto. Menurutnya, masyarakat hingga kini masih percaya dengan magis seperti babi ngepet dan santet karena dianggap berfungsi.
Menurut masyarakat jika magis juga dinilai menjadi kritik terhadap lembaga modern yang gagal memenuhi janji baik dalam mobilitas sosial, kesehatan, atau pencapaian psikologis. Magis seperti mantra yang alternatif untuk mengakomodasi kepentingan masyarakat.
Oleh karena itu, hal tersebut membuat suatu kelompok dan membawa dampak negatif secara naluriah mewariskan mekanisme menghadapi dan memecahkan masalah sosial budaya dari generasi ke generasi hingga saat ini. (frs/ian)





