Mojokerto (beritajatim.com) – Suasana berbeda terlihat di Kantor Sekretariat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Mojokerto Raya selama Ramadan 1447 Hijriah. Bukan hanya jurnalis yang berkumpul, tetapi juga mahasiswa, organisasi profesi, hingga alumni pesantren yang larut dalam lantunan ayat suci Alquran.
Kegiatan tadarus ini menjelma menjadi ruang pertemuan lintas elemen masyarakat di Kota Mojokerto. Memasuki hari ketiga, tadarus yang digelar di Jalan Pekayon No. 99, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto semakin ramai diikuti. Sejumlah organisasi seperti Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI).
Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), serta para alumni santri pondok pesantren (ponpes) di wilayah Mojokerto Raya ikut bergabung. Hal tersebut menciptakan atmosfer kebersamaan yang hangat sekaligus khusyuk.
Ketua PWI Mojokerto, Aminuddin Ilham mengatakan, kegiatan yang awalnya sederhana justru berkembang menjadi ajang silaturahmi lintas profesi dan generasi. “Alhamdulillah, di hari ketiga ini dukungan datang dari GMNI, IJTI, serta alumni santri. Ini di luar perkiraan kami. Semoga bisa terus berjalan hingga akhir Ramadan,” ungkapnya, Jumat (20/2/2026).
Menurut wartawan JTV ini, tadarus tersebut awalnya hanya ditujukan untuk mengisi waktu luang anggota PWI Mojokerto selama Ramadan dengan aktivitas yang lebih bermakna. Namun, antusiasme berbagai pihak membuat kegiatan tersebut memiliki nilai sosial yang lebih luas.
Di tengah rutinitas jurnalis yang padat dan sering kali penuh tekanan, Ramadan menjadi momentum untuk menyeimbangkan kehidupan profesional dan spiritual. Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, namun lanjutnya, merupakan kesempatan memperbaiki diri.
“Kami ingin anggota PWI tetap menjaga nilai moral, integritas, dan kejujuran dalam menjalankan tugas jurnalistik. Membaca Alquran bersama bukan hanya ibadah personal, tetapi juga pengingat bagi insan pers tentang tanggung jawab moral dalam menyampaikan informasi kepada publik,” katanya.
Ke depan, PWI Mojokerto juga berencana memperingati Nuzulul Qur’an dengan menghadirkan ulama setempat untuk memberikan tausiyah kepada anggota dan masyarakat yang hadir. Lebih dari sekadar kegiatan keagamaan, tadarus ini kini menjadi simbol persatuan di bulan suci menghubungkan jurnalis, aktivis, dan komunitas pesantren dalam satu majelis yang sama.
Sebuah pemandangan yang menunjukkan bahwa Ramadan mampu meruntuhkan sekat profesi dan organisasi, digantikan oleh semangat kebersamaan dan refleksi diri. [tin/but]






