Surabaya (beritajatim.com) – Berbagai capaian bidang kesehatan di Jatim dibeberkan dalam Rapat Koordinasi Kesehatan Daerah (Rakorkesda) Jatim 2024. Di antaranya terkait kondisi harapan hidup dan kasus stunting.
“Angka harapan hidup di Jatim sejak 2019 hingga 2023 terus mengalami peningkatan. Di tahun 2019 sebesar 71,30 tahun, dan 2023 naik menjadi 72,11 tahun,” kata Pj Gubernur Jatim Adhy Karyono, ditulis Jumat (9/8/2024).
Adhy mengungkapkan, prevalensi stunting di Jatim juga mengalami tren positif, yakni turun hingga 1,5 persen. Tahun 2022, angka prevalensi stunting Jatim sebesar 19,2 persen, dan tahun 2023 turun menjadi 17,7 persen.
“Stunting di Jatim lebih rendah dari nasional. Angka nasional 21,5 persen, sementara di Jatim 17,7 persen di tahun 2023. Dan akhir tahun 2024, target kita 14 persen,” terangnya.
Meski prevalensi stunting menurun, Adhy tetap mengajak para kepala daerah untuk terus melakukan intervensi secara spesifik dan intensif, serta memiliki memiliki daya ungkit yang tinggi.
Ia menambahkan bahwa hal tersebut sejalan dengan SE Gubernur Jatim Nomor: 440/4566/012/2024 tentang upaya percepatan penurunan stunting/AKI/AKB di Jatim.
“Saya berharap kita terus melakukan terobosan-terobosan baru sekaligus memperkuat program-program yang ada. Dan itu harus dilakukan mulai dari level desa, kecamatan, kabupaten/kota hingga provinsi,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Jatim Prof Erwin Astha Triyono menyebut Rakorkesda 2024 ini untuk mengevaluasi sejumlah capaian kinerja bidang kesehatan tahun 2023 sekaligus merumuskan langkah strategis untuk mencapai target kinerja 2024.
Adapun peserta Rakorkesda ini terdiri dari seluruh Dinas Kesehatan kabupaten/kota, Rumah Sakit Daerah Provinsi Jatim, Rumah Sakit Daerah kabupaten/kota serta sejumlah stakeholder kesehatan.
“Kegiatan ini juga sekaligus kita jadikan forum komunikasi terbuka antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten/kota dalam rangka pencapaian Program Transformasi Kesehatan Jawa Timur menuju Indonesia Emas 2045,” katanya.
Erwin menyebutkan sejumlah capaian program kesehatan, antara lain terdapat penambahan 4 kabupaten/kota yang telah Open Defecation Free (ODF) atau Stop Buang Air Besar Sembarangan.
Keempatnya adalah Sidoarjo, Kabupaten Pasuruan, Kota Pasuruan dan Kota Probolinggo. Sehingga total daerah yang telah ODF sebanyak 34 dengan jumlah desa 8.217 (96,75 persen) desa/kelurahan di Jatim telah ODF.
“Kita terus mendorong agar capaian kesehatan dan keselamatan, khususnya angka kematian ibu, stunting, DBD di Jatim terus membaik bahkan bisa menyentuh angka nol persen,” pungkasnya. [ipl/suf]






