Iklan Banner Sukun
Ragam

Paksakan Diri Selalu Bekerja, Bisa Jadi Akibat Fenomena Hustle Culture!

(Foto: Burst, pexels)

Surabaya (beritajatim.com) – Kerja, kerja, kerja. Jargon ini pasti sudah akrab kita dengar. Sebab, kalimat ini memang sering disampaikan oleh tokoh masyarkat maupun pejabat kita. Namun, kerja terus menerus tidak selalu memberikan dampak positif bagi kehidupan kita. Apalagi jika kita bekerja tanpa pandan waktu dan mengorbankan waktu berharga bersama keluarga. Kebiasaan gila kerja ini banyak dikaitkan dengan istilah hustle culture. Kebiasaan bergegas.

Bagi beberapa orang, hal ini mungkin tidak masalah. Mengingat bekerja adalah rutinitas wajib yang harus dilakukan setiap orang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, mereka yang gila kerja ini, bisa mengorbankan waktu dan kesehatan demi pekerjaan.

Sebenarnya, apa itu hustle culture?

Hustle culture adalah sebuah fenomena yang terjadi karena seseorang memiliki motivasi untuk terus bekerja bahkan melebihi batas waktunya. Semua itu dilakukan untuk mencapai kesuksesan dan target yang dituju. Impact Plus mengatakan bahwa kondisi tersebut merupakan hasil dari standar dan stigma masyarakat sendiri tentang kesuksesan hanya bisa diraih jika kalian bekerja sekeras-kerasnya.

Parahnya lagi, seseorang dengan hustle culture bisa merasa bersalah saat meluangkan waktu untuk bersantai atau berlibur, maka pikirannya akan mencari cara bagaiamana agar tetap bisa bekerja.

Bangun tidur, cek email kerja, lembur di kantor hingga larut malam tapi di rumah masih harus menyelesaikan pekerjaan lagi. Itu merupakan contoh dari hustle culture yang sering ditemui di lingkungan kerja. Meskipun terlihat seperti kegiatan yang normal, gaya hidup seperti ini lambat laun bisa merusak keseimbangan antara hidup dan pekekerjaan, dampaknya tentu akan mengganggu kesehatan baik fisik maupun mental.

Terkadang hustle culture tak hanya digunakan bagi pekerja, namun para pelajar juga. Seperti saat mereka belajar dari pagi hingga pagi, tak tidur semalaman karena mengerjakan tugas, belum lagi tugas kelompokm yang akhrinya dikerjakan sendiri. Lantas menjadi lupa segalanya, lupa makan, lupa bersosialisasi.

Lalu, apakah fenomena ini memiliki dampak yang berbahaya?

Tentu saja. Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, sekalipun itu adalah bekerja dan belajar yang memiliki tujuan baik. Saat kalian memaksakan diri untuk terus bekerja, maka bisa menyebabkan stress meningkat dan lelah yang berkepanjangan. Itu akan berujung pada burnout yang berdampak buruk bagi kesehatan mental dan fisik.

Forbes telah melakukan riset dengan hasil yang mengatakan bahwa hustle culture adalah budaya yang sia-sia. Bekerja kerasa banting tulang selama berjam-jam dan tanpa istirahat tidak akan membuahkan hasil yang berbeda.

Budaya ini memang sudah sepatutnya dihindari. Benahi mindset kalian, bahwa kesuksesan memang diraih dengan bekerja. Namun jika mental dan fisik sudah rusak karena bekerja, maka kesuksesan itu tidak akan pernah didapat. Jangan hidup untuk bekerja, namun bekerjalah untuk hidup. Ketahui batas diri sendiri, jika memang sudah merasa lelah, maka sudahi dan waktunya beristirahat.

Jangan lupakan orang disekeliling kalian, keluarga, teman, atau mungkin pasangan. Hargai waktu bersama mereka, karena jika sudah tidak ada waktu lagi yang tersisa maka semua kerja kerasa kalian selama ini mungkin sia-sia. [mnd/tur]


Apa Reaksi Anda?

Komentar