Surabaya (beritajatim.com) – Bukan rahasia lagi, jika kebiasaan merokok memiliki dampak buruk bagi kesehatan, seperti kanker paru-paru dan impotensi (disfungsi ereksi).
Lalu, bagaimana dengan memperpendek organ intim pria? Apakah ukuran organ intim pria bisa berubah setelah masa puber berakhir?
Pertumbuhan organ intim pria memang akan berhenti saat seseorang sudah melewati masa puber. Lalu, bagaimana kebiasaan merokok bisa mempengaruhi ukuran organ intim pria jadi lebih pendek? Yang dimaksud memendek di sini adalah ukurannya sewaktu ereksi, yang disebabkan oleh zat-zat yang terkandung di dalam rokok. Salah-satunya ialah nikotin.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa, nikotin bisa menyebabkan pengerasan dan merusak kelenturan pembuluh darah, tidak hanya di jantung, paru namun juga pada organ intim pria. Lalu apa korelasi antara nikotin yang bisa merusak pembuluh darah dengan ukuran penis yang pendek saat ereksi?
Terjadinya proses ereksi, memerlukan pembuluh darah yang sehat, agar darah bisa mengalir ke penis dan melakukan peregangan. Kandungan nikotin dalam rokok akan melukai pembuluh darah dan jika pembuluh darah rusak, penis tidak bisa mencapai ereksi secara optimal.
[berita-terkait number=”5″ tag=”kesehatan”]
Sebuah riset dari Boston University School of Medicine yang melibatkan 200 orang laki-laki, menunjukkan perokok memiliki penis ereksi yang lebih pendek ketimbang mereka yang tidak merokok.
Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa, aktivitas merokok dalam jangka waktu lama akan menghambat aliran darah dan mencegah penis meregang. Yang pada akhirnya mempengaruhi panjang penis ketika ereksi.
Tidak hanya mempengaruhi ukuran penis saat ereksi, kebiasaan merokok juga bisa mempengaruhi kualitas sperma. Kualitas sperma yang kurang baik, juga berkontribusi pada kemampuan sperma dalam membuahi sel telur. Sperma menjadi tidak bisa bertahan saat untuk melakukan perjalanannya mencapai sel telur.
Menurut Mohamad Eid Hammadeh, PhD, dosen kebidanan dan ginekologi di University of the Saarland, Jerman, seorang perokok hanya membawa protamin 2 dalam spermanya. Sementara, seharusnya sel sperma memiliki 2 protein, yakni: protamine 1 dan protamin 2. Ketidak seimbangan tersebut, membuat sel sperma rentan akan kerusakan.
Bahkan, jika sel sperma berhasil menembus tuba falopi, ia tidak mampu membuahi sel telur dan jika terbuahi, resiko keguguran lebih besar.
Masih menurut Hammadeh, sepasang suami istri yang sedang melakukan program memiliki anak, pasangan laki-lakinya harus berhenti merokok selama 3 bulan agar mendapatkan kualitas sperma yang ideal. (Jhn/nap)






