Kediri (beritajatim.com) – Radio Wijang Songko (RWS) FM secara resmi mengakhiri masa siarannya pada Selasa, 31 Maret 2026. Ini menandai akhir perjalanan panjang selama hampir enam dekade sebagai salah satu media legendaris di Kediri.
Radio yang pertama kali berdiri pada tahun 1968 dengan nama Radio Pattimura ini telah mengudara selama 58 tahun. Memulai perjalanannya di frekuensi AM sebelum beralih ke FM, RWS terakhir kali mengudara pada frekuensi 99.00 MHz sejak tahun 2017.
“Nah, perjalanannya sampai hari ini 58 tahun. Hari ini memang disiarkan bahwa hari ini adalah terakhir mengudara,” ujar Manager sekaligus Kepala Studio RWS Lindawati saat ditemui di studio, Selasa (31/3/2026).
Keputusan berat untuk menghentikan operasional ini dipicu oleh beberapa faktor krusial, termasuk dampak pandemi Covid-19 dan faktor usia pemilik tunggal yang kini telah menginjak 83 tahun. Manajemen memutuskan untuk mempensiunkan radio ini per 1 April 2026.
“Waktu itu tertunda-tunda terus sampai mulai awal tahun kemarin diputuskan oleh pimpinan per 1 April ini tidak mengudara. Hal ini dikarenakan pimpinan RWS ini dipegang tunggal ya, istilahnya kepemilikan tunggal. Nah, beliaunya sudah menginjak usia 83 tahun. Jadi ya dengan usia yang sudah banyak ini beliau memutuskan untuk pensiun istilahnya. Tapi tidak menutup kemungkinan RWS bakal muncul kembali. Tapi kapankah itu? Kami belum bisa menentukan,” jelas Lindawati.
RWS dikenal luas melalui program-program hiburan ikonik seperti Selamat Pagi RWS, Hello Dangdut, Pamor (Pesona Humor), hingga Pak Piket. Koordinator Program RWS, Asti Wibowo, menyebutkan bahwa karakter seperti Lek Dul, Temon, Ginuk, hingga Gembrot telah menjadi ikon yang sangat melekat di hati para pendengar setia.
“Yang ada di warung-warung, yang buka malam hari, yang buka angkringan atau mereka pekerja yang biasanya ada di shift malam. Jadi makanya kita dinamakan Pak Piket,” ujar Asti merujuk pada program yang menemani masyarakat di waktu malam selama 20 tahun terakhir.
Selain sebagai media hiburan, RWS juga berperan sebagai kawah candradimuka bagi banyak jurnalis dan penyiar di Kediri. Budaya kerja yang disiplin namun kekeluargaan menjadikan stasiun ini dianggap sebagai sekolah bagi para praktisi media di wilayah tersebut.
“Bisa dibilang RWS jadi salah satu sekolah teman-teman media juga. Kalau di RWS itu setiap teman dalam artian setiap orang yang ada disini adalah keluarga. Jadi, di mana ketika terus-menerus disiplin, terus ketepatan untuk tugas dan lain sebagainya, untuk kekeluargaan dan lain sebagainya, itu selalu ditekankan oleh pimpinan kita,” imbuhnya.
Menanggapi penutupan ini, Kepala Dinas Kominfo Kota Kediri, Ronny Yusianto, mengakui peran vital yang selama ini dijalankan oleh RWS dalam mewarnai kehidupan masyarakat Kota Kediri selama lebih dari setengah abad.
“Saya secara pribadi ya, cukup menyayangkan lah kalau kalau RWS sampai tidak siaran lagi, karena bagaimanapun itu bagian dari bagian dari kehidupan pendengarnya. Terlepas dari sisi kesulitannya, tapi bagaimanapun kan RWS ini sudah mewarnai kehidupan masyarakat Kota Kediri lebih dari 50 tahun,” kata Ronny.
Meskipun saat ini resmi berhenti mengudara, pihak manajemen menekankan bahwa ini bukanlah akhir permanen. Harapan untuk kembali menyapa pendengar di masa depan masih tetap terbuka lebar. “Terima kasih kepada seluruh pendengar setia. Kami tidak benar-benar pergi, ini hanya jeda. Kami berharap bisa kembali,” tutup Lindawati. [nm/kun]






