Ponorogo (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo meningkatkan pemantauan terhadap wilayah yang berpotensi mengalami krisis air bersih menjelang puncak musim kemarau.
Ya di tahun 2026 ini, puncak musim kemarau diperkirakan pada bulan Juli hingga Agustus. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya antisipasi agar penanganan dapat segera dilakukan, apabila pasokan air mulai berkurang. Sejumlah wilayah yang selama ini menjadi langganan kekeringan menjadi prioritas pengawasan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Ponorogo Agung Prasetyo mengatakan, petugas secara berkala memonitor kondisi sumber air di daerah rawan. Pemantauan dilakukan untuk mengetahui perkembangan debit air selama musim kemarau berlangsung. Dengan demikian, BPBD Ponorogo dapat mengambil langkah cepat, apabila masyarakat mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih.
“Jika nanti ada wilayah yang mulai mengalami kesulitan air bersih, tentu akan kami tindak lanjuti sesuai kondisi di lapangan,” tegas Agung, Senin (29/6/2026).
Selain melakukan pemantauan, BPBD Ponorogo juga telah memetakan wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan. Pemetaan tersebut mengacu pada riwayat kejadian kekeringan dalam beberapa tahun terakhir. Sedikitnya 5 kecamatan masuk dalam kategori rawan krisis air bersih, salah satunya Kecamatan Pulung yang meliputi Desa Karangpatihan dan Desa Sidoharjo.
Menurut Agung, potensi dampak kemarau tahun ini diperkirakan tidak sebesar tahun-tahun sebelumnya. Hal itu karena sejumlah desa yang selama ini menjadi titik kekeringan, kini telah memiliki sumber air alternatif berupa sumur dalam. Kondisi tersebut membuat kebutuhan air bersih masyarakat dapat dipenuhi tanpa harus mengandalkan bantuan distribusi air.
“Pada 2024 5 kecamatan terdampak kekeringan. Tahun 2025 nihil karena tergolong kemarau basah,” kata Agung.
Agung menambahkan, Desa Karangpatihan di Kecamatan Pulung serta Desa Duri dan Desa Wates di Kecamatan Slahung sudah tidak lagi mengajukan permohonan dropping air bersih sejak tahun lalu. Keberadaan sumur dalam dinilai efektif menjaga ketersediaan air bagi warga selama musim kemarau.
“Kebutuhan warga sudah sepenuhnya dipenuhi sumur yang dibangun tahun lalu,” jelasnya.(end/ted)






