Ponorogo (beritajatim.com) – Puluhan warga Dusun Bayeman Desa Kunti Kecamatan Sampung Ponorogo berdemo. Mereka menuntut padepokan Nurul Tauhid yang ada di desanya ditutup.
Tulisan-tulisan bernada penolakan dibawa warga saat berada di lokasi padepokan. Aktivitas pemilik dan pengikut padepokan yang dinilai tidak jelas dan tertutup membuat warga kesal dan meminta ditutup.
“Padepokan tidak jelas, inginnya masyarakat ya ditutup saja,” kata Lasimin, Ketua RT 03 RW 01, Selasa (07/01/2025).
Menurut Lasimin, selama pemilik tidak pernah izin kepada lingkungan terkait dengan aktivitas di padepokan. Pemiliknya pun sama sekali tidak membuka komunikasi dengan masyarakat sekitar, sangat tertutup. Niatan ingin menutup semakin besar, setelah warga mengetahui jika pemilik padepokan tersebut, diduga melakukan penganiayaan.
“Infonya ada kasus penganiayaan, santrinya juga dimintai uang dalam jumlah besar,” katanya.
Demo warga yang berada di lokasi padepokan, mendapatkan penjagaan dari aparat Polsek dan Koramil Sampung. Petugas pun berjaga-jaga, untuk menjaga kondusifitas saat demo warga berlangsung.
Kapolsek Sampung AKP Agus Suprianto menjelaskan bahwa ada beberapa warga yang tidak berkenan dengan aktivitas keseharian yang ada di tempat yang disimpulkan warga sebagai padepokan tersebut. Terlebih, warga ada yang mengetahui bahwa telah terjadi dugaan penganiayaan yang dilakukan pemilik padepokan kepada salah satu pengikutnya. Kasus itu pun masih dalam penyelidikan polsek setempat.
“Ada warga dari luar Desa Kunti yang melapor. Yang bersangkutan dulunya pengikut pemilik padepokan tersebut,” kata Agus.
Sebuah bangunan yang disimpulkan warga sebagai padepokan itu, kata Agus, aktivitas setiap malam jumatnya diadakan tahlilan yang diikuti oleh 3-4 orang. Menurutnya, tempat tersebut dibilang lembaga pendidikan tidak, pondok pesantren pun juga tidak. Sebab, memang pemilik tidak mengantongi izin.
“Jadi tempat kumpul sejumlah warga yang menganggap pemilik padepokan itu sebagai guru spiritualnya. Aktivitasnya tidak setiap hari, sesekali pengikutnya ke sini,” tutup Agus. [end/but]






