Surabaya (beritajatim.com) – Pusat Unggulan Inovasi Perguruan Tinggi (PUI-PT) Produk Pangan dan Suplemen Kesehatan untuk Kondisi Degeneratif (Pasdeg) Universitas Surabaya (Ubaya) terus memperkuat langkah internasionalisasinya melalui pengembangan kolaborasi strategis dengan sejumlah institusi pendidikan dan riset terkemuka di Asia Tenggara.
Upaya tersebut diwujudkan melalui kunjungan Ketua PUI Pasdeg Ubaya, Prof. Tjie Kok, ke Thailand pada 11–15 Juni 2026. Dalam rangkaian agenda tersebut, PUI Pasdeg Ubaya tidak hanya tampil dalam forum ilmiah internasional bergengsi, tetapi juga membuka peluang kerja sama konkret dengan Mahidol University dan Chiang Mai University, dua universitas yang dikenal memiliki reputasi kuat dalam bidang kesehatan, farmasi, pangan, dan inovasi.
Kehadiran Prof. Tjie Kok sebagai invited speaker pada Food Innovation Asia Conference (FIAC) 2026 menjadi bukti semakin meningkatnya pengakuan internasional terhadap kapasitas riset dan inovasi yang dikembangkan PUI Pasdeg Ubaya.
Forum yang mempertemukan akademisi, peneliti, industri, dan pembuat kebijakan dari berbagai negara tersebut menjadi panggung strategis bagi Ubaya untuk memperkenalkan berbagai capaian inovasi produk pangan fungsional dan suplemen kesehatan yang telah dikembangkan selama ini.
Dalam paparannya, Prof. Tjie Kok memperkenalkan berbagai program unggulan, aktivitas riset, serta inovasi produk yang dihasilkan PUI Pasdeg Ubaya sebagai kontribusi Indonesia dalam pengembangan solusi kesehatan berbasis pangan dan suplemen kesehatan untuk menghadapi meningkatnya kasus penyakit degeneratif di tingkat global.
“Partisipasi dalam forum internasional seperti FIAC menjadi sarana penting untuk memperluas visibilitas dan pengakuan internasional terhadap inovasi yang dikembangkan oleh peneliti Indonesia. Selain itu, forum ini membuka peluang kolaborasi lintas negara yang semakin luas,” ujar Prof. Tjie Kok, Selasa (23/6/2026).
Langkah internasionalisasi tersebut berlanjut melalui kunjungan resmi ke Faculty of Agro-Industry, Chiang Mai University. Dalam kunjungan tersebut, dilakukan diskusi mengenai peluang pengembangan riset bersama, pertukaran akademik, hingga hilirisasi inovasi pangan dan suplemen kesehatan.
Prof. Tjie Kok juga meninjau berbagai fasilitas unggulan, termasuk Sensory Evaluation Laboratory, Food Innovation and Packaging Center (FIN), dan Black Soldier Fly (BSF) Pilot Rearing Facility.
Menurutnya, salah satu kekuatan utama yang ditunjukkan Thailand adalah keberhasilan membangun ekosistem inovasi yang terintegrasi antara universitas, industri, dan pemerintah sehingga hasil penelitian dapat lebih cepat diadopsi dan dikomersialisasikan.
“Saya menyaksikan integrasi yang sangat baik antara riset, pengembangan produk, dan teknologi pengemasan inovatif. Ekosistem seperti ini membuat industri tertarik mengadopsi dan memproduksi inovasi dalam skala besar. Pengalaman ini menjadi referensi penting bagi penguatan ekosistem inovasi pangan dan suplemen kesehatan di Indonesia,” jelasnya.
Selain Chiang Mai University, Prof. Tjie Kok juga melakukan kunjungan akademik ke Mahidol University, salah satu universitas terbaik di Asia Tenggara.
Kunjungan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya memperpanjang dan memperluas ruang lingkup kerja sama antara Mahidol University dan Ubaya yang sebelumnya telah terjalin melalui Fakultas Kedokteran, Fakultas Teknobiologi, dan Fakultas Farmasi.
Melalui penguatan jejaring internasional ini, PUI Pasdeg Ubaya membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dalam bentuk riset multidisiplin lintas negara, pertukaran mahasiswa dan dosen, publikasi ilmiah bersama, pengembangan inovasi bersama, hingga akses terhadap jejaring riset dan industri global.
Langkah tersebut semakin menegaskan posisi PUI Pasdeg Ubaya sebagai salah satu pusat unggulan riset Indonesia yang aktif membangun kemitraan internasional untuk meningkatkan kualitas penelitian, mempercepat hilirisasi inovasi, serta memperkuat daya saing Indonesia dalam bidang pangan fungsional dan suplemen kesehatan di tingkat global.
“Melalui kunjungan ke kedua universitas tersebut, terbuka berbagai peluang kerja sama internasional yang dapat dikembangkan bersama. Kami berharap kolaborasi ini dapat menghasilkan inovasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam jejaring riset global,” pungkas Prof. Tjie Kok. [adv]






