Bojonegoro (beritajatim.com) – Proyek penahan tebing Sungai Bengawan Solo di Desa Lebaksari dan Desa Tanggungan Kecamatan Baureno Kabupaten Bojonegoro senilai Rp40 miliar yang longsor masih dalam proses perbaikan pihak kontraktor pelaksana proyek.
Juru bicara kontraktor PT Indopenta Bumi Pertiwi Ardhiyana mengatakan, saat ini pihaknya masih melakukan pengangkatan beban bronjong proyek sepanjang 980 meter itu. Sembari menunggu hasil rekomendasi teknis (Rekomtek) dari ahli yang ditunjuk, yakni dalam hal ini Institut Teknologi Surabaya (ITS).
“Kita angkut dulu beban bronjong. Nanti kalau ada perkembangan yang signifikan kita sampaikan,” ujarnya, Rabu (19/3/2025).
Menurut Ardhiyana, fluktuasi debit air sungai terpanjang di Pulau Jawa ini, disebut berpengaruh terhadap penelitian yang dilakukan oleh ITS. Saat ditanya sampai kapan Rekomtek itu turun, pihaknya belum bisa memastikan.
“Lokasi Tebing sudah empat kali diterjang banjir Bengawan Solo. Sampai saat ini kita masih menunggu rekomendasi teknis (rekomtek) dari ITS,” jelasnya.
Juru bicara perusahaan yang beralamat di Surabaya ini menambahkan, jika setelah rekomtek dari ITS turun, pihaknya akan menyampaikan hasilnya ke BBWS Bengawan Solo, DPRD, dan Kejaksaan Negeri Bojonegoro.
Sementara itu, Kabid Pekerjaan Umum Sumber Daya Air, Dinas PU SDA Pemkab Bojonegoro Iwan Kristian saat dikonfirmasi mengatakan, jika hasil uji laboratorium yang keluar dari ITS adalah hasil Sondir, atau penelitian tanah. “Minggu ini baru dapat hasil sondir, semoga minggu ini bisa selesai,” jelasnya.
Namun menurut pihak kontraktor, hasil penelitian tanah itu masih dalam bentuk data mentah, alias masih harus diolah lagi. Perbaikan tembok penahan tebing itu setelah sekitar 150 meter kondisinya rusak parah. Bangunan longsor setelah sekitar dua minggu diserahterimakan. Tepatnya Desember 2024. [lus/ian]






