Bondowoso (beritajatim.com) – Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Bondowoso, Yasid, mengapresiasi langkah Pemerintah Kabupaten Bondowoso yang telah menyalurkan bantuan pupuk gratis kepada petani tembakau.
Program ini disalurkan melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) dan secara simbolis dimulai pada Jumat, 13 Juni 2025, di Kecamatan Wringin lalu.
“Kami sangat mengapresiasi program pupuk gratis yang diberikan kepada petani tembakau beberapa waktu lalu. Meskipun jumlahnya belum mencakup seluruh lahan di Bondowoso, ini sangat membantu petani karena tembakau bukan komoditas yang mendapatkan alokasi pupuk subsidi,” ujar Yasid pada BeritaJatim.com, Kamis (3/7/2025).
Menurutnya, bantuan ini merupakan angin segar di tengah sulitnya akses petani terhadap pupuk, terutama karena tembakau tidak termasuk dalam kategori tanaman penerima pupuk subsidi dari pemerintah pusat.
Namun demikian, Yasid berharap program ini tidak berhenti hanya tahun ini. Ia meminta agar bantuan pupuk bisa terus berlanjut dan diperluas cakupannya hingga seluruh lahan tembakau di Bondowoso.
“Dengan luasan yang tidak semua tercover tahun ini, perlu sosialisasi masif agar petani tembakau yang belum menerima bantuan tetap mendapatkan informasi yang jelas. Jangan sampai bantuan ini seperti memberi angin surga yang hanya sesaat,” tegasnya.
Sebelumnya diberitakan, Pemkab Bondowoso telah menyalurkan pupuk gratis jenis NPK rendah kadar klorin kepada 4.366 petani tembakau yang tersebar di 52 desa di 9 kecamatan. Bantuan sebanyak 130 ton pupuk tersebut dikirim menggunakan lima truk, dengan estimasi luasan lahan penerima mencapai 582,881 hektare.
Namun, Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid mengakui bahwa bantuan ini belum mampu menjangkau seluruh petani tembakau. “Tahun ini luas tanam tembakau di Bondowoso mencapai 8 ribu hektare. Jadi memang pupuk gratis ini baru menyentuh kurang dari 10 persen dari total lahan,” jelasnya.
Kendati demikian, Bupati berharap program ini menjadi stimulan bagi petani dan bukti nyata kepedulian pemerintah daerah terhadap sektor tembakau.
Sementara itu, Ketua Gapoktan Banyusari, Mohammad Rois, dari Desa Banyuwuluh, Kecamatan Wringin, turut mengapresiasi program ini meski bantuan yang diterima jauh dari kebutuhan kelompoknya.
“Gapoktan kami hanya mendapat 7 kuintal pupuk untuk 13 Poktan. Padahal kebutuhan kami sebetulnya mencapai 7 ton ZA. Tapi semoga saja ini bisa meringankan beban petani,” ucapnya.
Ia juga menjelaskan bahwa distribusi pupuk dilakukan bervariasi, antara 11 hingga 43 kilogram per petani, tergantung luasan lahan dan jumlah anggota kelompok.
Program ini diharapkan menjadi langkah awal yang berkelanjutan dalam membantu petani tembakau, terutama dalam menghadapi tingginya harga pupuk dan keterbatasan akses selama musim tanam. Pemerintah daerah pun diminta untuk terus melakukan evaluasi agar bantuan yang diberikan ke depan lebih merata dan sesuai dengan kebutuhan lapangan. (awi/ted)






