Bojonegoro (beritajatim.com) – Program Gerakan Beternak Ayam Petelur Mandiri (GAYATRI) yang digagas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro terus menunjukkan hasil positif. Sebagian besar Keluarga Penerima Manfaat (KPM) kini mulai menikmati panen telur dan memperoleh tambahan pendapatan, Selasa (7/10/2025).
Salah satu penerima program, Semi, warga Desa Bonorejo, Kecamatan Gayam, mengaku sudah merasakan manfaat nyata dari program yang dikembangkan bersama operator lapangan migas Banyu Urip Blok Cepu, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) itu.
“Setiap hari, dari sekitar 54 ayam petelur yang saya terima bisa bertelur antara 49 sampai 52 butir. Telur ini sebagian dijual ke pasar maupun tetangga dengan harga sekitar Rp25 ribu per kilogram, sisanya untuk konsumsi sendiri,” ujarnya sambil menunjukkan kandang ayam di belakang rumahnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro, Elfia Nuraini, menjelaskan bahwa program GAYATRI yang didanai dari APBD induk 2025 telah disalurkan kepada 400 KPM di lima kecamatan dan sepuluh desa. Hasil monitoring menunjukkan 70 hingga 90 persen ayam sudah mulai berproduksi, dengan tingkat kematian ternak sangat rendah, hanya sekitar 2 persen.
“Berdasarkan survei di Desa Turi (Kecamatan Tambakrejo) dan Desa Klino (Kecamatan Sekar), keuntungan harian rata-rata mencapai Rp22.500. Ini dihitung dengan asumsi peternak sudah mandiri membeli pakan seharga Rp7.500 per kilogram, dengan produksi telur harian sekitar 2,7–2,8 kilogram dan harga jual telur Rp24.000–Rp25.000,” terang Elfia.
Analisis usaha menunjukkan bahwa peternak peserta program GAYATRI berpotensi memperoleh keuntungan bulanan Rp514.200 hingga Rp739.200, angka yang cukup signifikan bagi keluarga rentan untuk menambah pendapatan sekaligus keluar dari data kemiskinan.
Meski begitu, hasil evaluasi menemukan adanya penurunan produksi telur pada sebagian kecil peternak akibat pencampuran pakan dengan jagung tanpa takaran tepat, yang menurunkan kualitas nutrisi. “Pendampingan yang intensif dari petugas diharapkan terus diberikan untuk memastikan kualitas pakan dan hasil produksi tetap optimal,” tegas Elfia.
Untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan program, Disnakkan menyiapkan beberapa strategi baru, di antaranya self mixing pakan berkelompok, mendorong peternak membuat pakan sendiri melalui koperasi atau BUMDes guna menekan biaya pakan yang mencapai 70 persen dari total operasional. Kemudian pemanfaatan rempah, digunakan sebagai campuran pakan atau air minum untuk meningkatkan daya tahan ternak, mengurangi obat-obatan, dan menekan bau kotoran.
Selanjutnya pemasaran mandiri, mendorong peternak menjual telur langsung ke konsumen, warung, atau secara daring agar mendapat margin lebih tinggi. Terakhir, penjualan kotoran ayam sebagai pupuk tanaman seharga Rp1.000–Rp1.500 per kilogram.
Selain itu, Disnakkan juga memperkuat kemitraan dengan BUMD Pangan, BUM Desa, dan koperasi ternak untuk memperluas akses pemasaran serta mempermudah distribusi pakan dan bibit ayam.
Sebagai bentuk dukungan, Pemkab Bojonegoro juga menerbitkan surat edaran kepada ASN untuk membeli telur GAYATRI dengan slogan “Bangga beli telur GAYATRI, mergo telur kabeh dadi dulur.”
“Program GAYATRI akan diperluas secara signifikan melalui Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (P-APBD). Ini menandakan komitmen Pemkab Bojonegoro untuk memperluas jangkauan program pengentasan kemiskinan berbasis pemberdayaan ternak,” pungkas Elfia. [lus/beq]






