Surabaya (beritajatim.com) – Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Dr. Hendro Juwono, M.Si., berhasil mengembangkan metode inovatif untuk mengatasi masalah lingkungan dan energi.
Ia sukses mencampurkan limbah plastik dengan biomassa untuk menghasilkan biofuel berkualitas tinggi. Penelitian ini memberikan solusi berkelanjutan terhadap permasalahan sampah plastik dan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Prof. Hendro menjelaskan perbedaan mendasar antara polimer alam (seperti karet dan protein) yang mudah terurai, dan polimer sintetis (seperti polietilen dan polipropilen dalam plastik) yang sulit terdegradasi. Limbah plastik, sebagai turunan bahan tak terbarukan, memiliki kesamaan senyawa dengan bahan bakar fosil.
“Polimer alam memiliki sifat yang mudah terdegradasi dan terurai kembali ke alam. Polimer alam itu seperti karet, protein, tepung, dan kolagen,” jelas pakar polimer dan degradasi plastik di Fakultas Sains dan Analitika Data (FSAD) ITS tersebut, Senin (10/3/2025).
Dalam penelitiannya, Prof. Hendro menggunakan metode pirolisis untuk mengolah limbah plastik. Hasilnya menunjukkan angka Research Octane Number (RON) mencapai 98-102, melebihi kualitas bahan bakar konvensional yang beredar. Namun, proses ini membutuhkan suhu tinggi (400 derajat Celcius) dan konsumsi listrik yang besar.
Untuk mengatasi kendala tersebut, Prof. Hendro mengombinasikan limbah plastik dengan biomassa seperti minyak nyamplung, Crude Palm Oil (CPO), dan Waste Cooking Oil (WCO). Campuran ini berhasil menurunkan suhu proses pirolisis menjadi 300 derajat Celcius, sehingga lebih efisien dan hemat biaya. Bahan baku pun lebih mudah didapat dan terjangkau.
Penelitian ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin 7 (energi bersih dan terjangkau) dan 12 (konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab). Prof. Hendro berharap temuannya dapat berkontribusi pada solusi permasalahan lingkungan dan energi di Indonesia.
Ia menekankan bahwa penelitian ini membutuhkan kesabaran dan waktu yang panjang. “Harapannya riset ini bisa membantu menyelesaikan masalah lingkungan dan energi. Penelitian ini juga butuh waktu cukup lama,” tandasnya. [ipl/ian]






