Surabaya (beritajatim.com) – Profesor ITS Surabaya Prof I Made Ariana mengkaji efisiensi kapal bagi lingkungan berkelanjutan. Ia meneliti pengurangan dampak negatif emisi gas buang kapal di perairan laut untuk menguatkan efisiensi energi kapal nasional menuju net zero emission.
Dalam penelitiannya, Made berfokus pada pengukuran efisiensi energi kapal menggunakan konsep Indeks dan Indikator Operasional Efisiensi Energi (EEOI).
“Ini penting untuk mengevaluasi efisiensi energi kapal sejak tahap perancangan, agar nantinya dapat berdampak pada keberlanjutan lingkungan dan finansial,” kata Made, Senin (25/3/2024).
Karena itu, ia mengembangkan inovasi sistem Traffic Separation Screen (TSS) berbasis data Automatic Identification System (AIS) untuk memonitor efisiensi energi kapal yang didukung memakai data statis dan dinamis kapal untuk menghitung indikator efisiensi energi seperti Carbon Intensity Indicator (CII). “Dengan demikian, perusahaan pelayaran dapat memantau dan meningkatkan efisiensi energi kapal mereka secara lebih efektif,” lanjutnya.
Sistem tersebut, kata dia, memiliki fitur utama dalam pemantauan dan pencatatan penggunaan energi secara real time setiap bulan. Fitur ini mempermudah operator kapal dalam mengurangi emisi gas rumah kaca agar dapat mengambil langkah perbaikan yang sesuai.
“Dengan mengurangi jumlah emisi secara signifikan, maka keputusan dalam pemberhentian operasi kapal dapat lebih komprehensif,” ungkapnya.
Selain itu, Made juga mengembangkan metode Engine Power Limitation (EPL) sebagai cara untuk membatasi konsumsi bahan bakar kapal dengan biaya yang lebih murah.
“Meskipun mengurangi kecepatan operasional, metode ini memberikan manfaat berupa sertifikat efisiensi energi dari International Maritime Organization (IMO) dan memungkinkan kapal beroperasi di area dengan regulasi yang ketat,” terangnya.
Made juga melibatkan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan. Harapannya, inovasi ini dapat membantu Indonesia mencapai target program net zero emission dan meningkatkan daya saing kapal Indonesia secara global. “Ini adalah contoh nyata bagaimana teknologi kemaritiman dapat digunakan untuk mengatasi tantangan lingkungan,” ujar Made.
Dalam pengembangannya, Made menyadari bahwa masih ada beberapa tantangan yang perlu diatasi. Salah satunya adalah keterbatasan jangkauan sistem yang memerlukan peningkatan jumlah receiver berbasis satelit (RBS) untuk memperluas cakupan area.
Untuk mengatasi hal ini, Made juga telah mencoba untuk menghibahkan sistem monitoring dan kajian kemaritiman rancangannya tersebut ke lebih dari 12 mitra strategis, seperti universitas dan lembaga pemerintah.
Lewat inovasi ini, Made berharap perusahaan pelayaran di Indonesia akan mengadopsi bahan bakar yang lebih efisien, menetapkan contoh bagi kapal lain untuk praktik ramah lingkungan. Dengan demikian, Indonesia bisa menuju pengurangan emisi sesuai standar IMO. “Diharapkan akan diteruskan adopsi dari solusi ini guna memajukan industri perkapalan yang lebih bersih dan berkelanjutan,” pungkasnya. [ipl/kun]






