Malang (beritajatim.com) – Prof. Dr. Eng. Fitri Utaminingrum, ST, MT resmi dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Brawijaya (UB) bidang visi Komputer pada Senin (26/6/2023). Pengukuhan profesor aktif ke 2 di Fakultas Ilmu Komputer (Filkom) dan urutan ke 171 di UB ini berlangsung di gedung Sasana Krida UB.
Prof Fitri Utami dikukuhkan bersama Prof. Dr. Dra. Sri Rahayu, M.Kes dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UB.
Prof Firtir menemukan inovasi bernama ‘kursi roda pintar multi-feature’. Inovasi tersebut menjadi solusi untuk penyandang disabilitas fisik.
“Ada 9 Fitur yang saya ciptakan, yaitu fitur remote, fitur pergerakan kepala, fitur pengenalan suara, fitur bola mata, fitur semi otonom, Deteksi tangga, Human following, dan fitur road surface detection,” kata Prof Fitri saat jumpa media.
Fitur remote berfungsi jika user menuju ke suatu tempat, tidak diperlukan lagi cukup kontrol dengan mobile phone. Jadi bisa dikendalikan dari jarak jauh.
Terkait fitur pergerakan kepala, dapat digerakkan navigasi dengan kepala ke kanan atau ke kiri. Pergerakan bola mata, digunakan navigasi dengan mata. Fitur pengenalan suara fungsinya untuk menangkap suara pengguna.
“Tipe latar belakang disabilitas di Indonesia itu bermacam macam, karena itu maka diperlukan solusi memanfaatkan teknologi. Ada yang cacat ganda , disabilitas kaki dan tangan mereka, maka yang solusi saya dengan teknologi ini,” kata dosen kelahiran Surabaya ini.

Deteksi tangga turun dan tangga naik untuk pengguna kursi roda yang terkadang gagal menangani hal itu. Human following nantinya kursi roda ini tidak perlu didorong, jadi bisa mengikut navigator yang ada di depannya.
” Fitur road surface detection, misalnya ada jalan batu, paving, lantai, akan mengatur kecepatan dari rodanya. Penggunanya aman dan nyaman. Semi otonom, untuk mengarahkan sistem kursi roda ke ruangan tertentu,” jelas perempuan jebolan Universitas Kumamoto Jepang ini.
Kursi roda buatannya sudah masuk di generasi ketiga. Generasi pertama masih mengadaptasi kursi roda yang ada. Lalu generasi kedua sudah mulai membuat sendiri tapi masih terlalu besar.
Generasi ketiga sudah mulai minimalis, tapi kelemahannya masih menggunakan jok yang ada di kursi roda umumnya.
“Nanti di generasi keempat harapan saya user bisa langsung menduduki dengan hanya memencet satu tombol saja,” sambung guru besar yang pernah belajar di UB dan ITN ini.
BACA JUGA:
FIA dan FEB Universitas Brawijaya Malang Tambah Guru Besar
Keunggulan kursi roda pintar ini memiliki kemampuan manuver yang baik dengan mengutamakan keamanan dan kenyamanan penggunanya. Fitur pada kursi roda pintar menerapkan algoritma Deep Learning untuk mendapatkan hasil akurasi maksimal dan waktu komputasi yang cepat.
“Namun, kelemahannya, memerlukan jumlah data yang besar dan bervariasi untuk melatih model secara efektif. konstruksi yang masih relatif berat. Kelemahan lainnya adalah sistem vision akan terganggu kinerja jika kursi roda pintar ini dioperasikan pada kondisi lingkungan dengan pencahayaan yang gelap,” pungkasnya. [dan/but]






