Ngawi (beritajatim.com) – Produsen tahu di Desa Gelung, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, mengalami gulung tikar imbas harga kedelai yang mahal. Saat ini, harga kedelai bertahan Rp16 ribu per kilogramnya, membuat para produsen tahu tak bisa melanjutkan produksi.
Dari total 14 produsen, hanya tersisa dua orang yang masih membuat tahu. Dua produsen ini terpaksa menaikkan harga tahunya agar tidak mengalami kerugian lebih besar.
Salah satu produsen tahu yang gulung tikar, Sumarno, membenarkan jumlah produsen kini hanya tinggal dua orang. Sebelumnya, di Gang Tahu bisa mencapai 14 produsen yang aktif.
Namun, sejak kenaikan harga kedelai di awal tahun 2022, perlahan banyak produsen yang gulung tikar. Banyak dari mereka yang sampai menjual alat produksi.
“Peralatan produksi sudah kami jual. Pertama, karena harga bahan baku kedelai mahal. Kedua, pemasarannya sudah sulit ketika harga disesuaikan dengan naiknya bahan baku. Saya sudah tidak mampu lagi untuk memproduksi tahu,” kata Sumarno, Senin (31/10/2022).
Mahalnya kedelai turut berdampak bagi Siti Malikatin, salah satu produsen tahu yang masih bertahan. Dia memilih menaikkan harga tahu meski banyak konsumen yang mengeluh.
[berita-terkait number=”3″ tag=”harga-kedelai-mahal”]
Bahkan, kini hanya satu pedagang pasar saja yang mengambil tahu dari tempatnya.
Siti menyebut dia menaikkan harga tahu yang tadinya Rp20 ribu per papan, kini jadi Rp32 ribu per papan. Kenaikan drastis itu membuat konsumennya protes namun akhirnya memahami kondisi karena bahan baku kedelai sudah mahal.
“Mayoritas konsumen kan menengah ke bawah, mereka mampunya hanya dengan harga sekitar Rp20 ribu per papan. Namun, harga naik terus akhirnya harga disesuaikan di Rp32 ribu per papan. Produsen di sini sudah banyak yang gulung tikar,” kata Siti.
Jika harga bahan baku kedelai tak turun, seluruh produsen tahu di Ngawi bisa saja gulung tikar. Produsen mengharap campur tangan pemerintah dalam menstabilkan harga kedelai agar sesuai dengan daya beli masyarakat dan mereka bisa berproduksi normal. [fiq/beq]






