Mojokerto (beritajatim.com) – Produksi beras di Kabupaten Mojokerto selama tahun 2025 mengalami peningkatan signifikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mojokerto, produksi beras sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencapai 180.391 ton atau naik 9,34 persen dibanding tahun sebelumnya yang tercatat 164.977 ton.
Kepala BPS Kabupaten Mojokerto, Dwi Yuhenny mengatakan, peningkatan produksi tersebut sejalan dengan bertambahnya luas panen pada tahun 2025 yang turut mendongkrak produksi padi Gabah Kering Giling (GKG). “Produksi padi di Kabupaten Mojokerto selama tahun 2025 mencapai 312.409 ton GKG,” ungkapnya, Rabu (13/5/2026).
Setelah dikonversikan menjadi beras, lanjutnya, jumlahnya setara 180.391 ton beras atau meningkat 9,34 persen dibanding tahun sebelumnya. Dwi menjelaskan, produksi beras terbesar terjadi pada subround pertama atau periode Januari hingga April 2025 yang mencapai 80.261 ton. Angka itu meningkat 11,01 persen dibanding periode yang sama tahun 2024.
Sementara pada subround kedua atau Mei hingga Agustus 2025, produksi beras tercatat sebesar 67.992 ton. Meski mengalami penurunan dibanding subround pertama, jumlah tersebut masih lebih tinggi 19,86 persen dibanding subround kedua tahun sebelumnya yang mencapai 56.728 ton.
Sedangkan pada subround ketiga atau September hingga Desember 2025, produksi beras kembali menurun menjadi 32.136 ton. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2024, jumlah tersebut turun 10,71 persen. Menurutnya, penurunan produksi pada akhir tahun dipengaruhi musim kemarau yang relatif lebih panjang.
“Musim kemarau yang cukup panjang memengaruhi pola tanam padi, khususnya di daerah yang sistem irigasinya masih bergantung pada curah hujan. Meski demikian, secara keseluruhan produksi beras di Kabupaten Mojokerto sepanjang 2025 masih mencatat surplus sekitar 53.821 ton,” katanya.
Jumlah tersebut diperoleh dari total produksi beras sebesar 180.391 ton dibanding konsumsi masyarakat yang mencapai sekitar 125.569 ton. BPS Kabupaten Mojokerto mencatat, surplus produksi terutama terjadi pada periode Maret hingga September 2025. Puncak produksi berlangsung pada April 2025 dengan capaian mencapai 65.410 ton beras.
Namun pada beberapa bulan tertentu seperti Januari, Februari, Oktober, November, dan Desember masih terjadi defisit produksi beras. Kondisi itu disebabkan tanaman padi belum memasuki masa panen, sementara sebagian lahan sedang dalam tahap persiapan atau ditanami komoditas selain padi.
Dwi menambahkan, berbagai kebijakan pemerintah di sektor pertanian perlu terus diperkuat untuk menjaga tren peningkatan produksi beras di Kabupaten Mojokerto. Mulai dari penyuluhan pertanian, bantuan alat dan mesin pertanian, hingga penyaluran pupuk bersubsidi yang tepat sasaran.
“Selain peningkatan produksi, stabilitas harga gabah di tingkat petani juga perlu dijaga agar kesejahteraan petani semakin meningkat,” tandasnya. [tin/but]






