Malang (beritajatim.com) – Sineas asal Kota Malang sekaligus alumni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prialangga, kembali mencatatkan capaian gemilang di panggung kreatif nasional. Mengemban posisi sebagai sutradara, alumni Program Studi Ilmu Komunikasi ini sukses mengantarkan music video (MV) terbaru dari penyanyi Salma Salsabil yang berjudul Hatchu!! menduduki posisi trending satu di platform YouTube.
Hingga saat ini, karya visual tersebut telah disaksikan lebih dari 1,7 juta kali. Capaian ini memperpanjang daftar kesuksesan Prialangga di industri musik tanah air, setelah sebelumnya sempat menuai sukses besar lewat penggarapan MV Bahasa Kalbu yang dibawakan oleh Raisa.
Dalam proyek teranyarnya, sutradara yang telah menggarap lebih dari 200 MV ini memilih untuk mengangkat identitas daerah asalnya. Prialangga mengeksplorasi sejumlah sudut ikonik di Kota Malang sebagai latar belakang visual. Tidak hanya menonjolkan estetika kota, ia juga melibatkan puluhan talenta lokal dari berbagai generasi, termasuk musisi Sambadha (Coldiac), Onedink (SATCF), serta kreator konten Rizky Boncell dan Canda Cendol.
Prialangga menjelaskan bahwa keputusan melibatkan figur-figur lokal tersebut merupakan bentuk dedikasi personal untuk mengenalkan potensi besar yang dimiliki Malang kepada khalayak yang lebih luas. Melalui konsep visual ini, ia juga ingin menyampaikan pesan mengenai realitas para pekerja keras.
”Lewat MV ini, saya ingin mengenalkan Malang yang kaya akan potensi tempat berkreasi, sekaligus melibatkan orang-orang yang menurut saya sangat berpotensi dikenal lebih luas. Ini juga untuk menggambarkan makna lagu tentang realita kehidupan para pekerja yang mengejar mimpi di tengah tekanan rutinitas pekerjaan,” ujar Prialangga, Selasa (23/6/2026).
Rekam jejak Prialangga di industri musik nasional terbilang panjang. Ia tercatat pernah berkolaborasi dengan deretan musisi dan grup papan atas seperti NOAH, Rossa, Slank, hingga JKT48. Memulai langkah awal dari skena musik independen di Malang, ia mengungkapkan bahwa ketatnya kompetisi di industri kreatif menuntut kesiapan mental serta penguasaan teknis yang matang.
Menurutnya, kemampuan adaptasi yang ia miliki saat ini tidak lepas dari pola pendidikan aplikatif yang diterimanya selama masa perkuliahan di Kampus Putih UMM.
”Secara ilmu, yang paling berkesan dan terasa manfaatnya sampai sekarang adalah dulu saat kuliah kami benar-benar diajarkan praktik terus, tidak melulu tentang teori. Itu membuat saya lebih siap ketika memasuki industri ini,” kata alumni Ilmu Komunikasi UMM tersebut.
Selain aspek teknis dan kemampuan akademis, Prialangga menggarisbawahi pentingnya membangun jaringan atau networking sejak dini. Semasa kuliah, ia aktif memproduksi film pendek dan membuka ruang komunikasi dengan komunitas di luar lingkungan kampus. Ia menilai, reputasi dan kepercayaan di dalam ekosistem kerja merupakan faktor penentu untuk bertahan di industri kreatif ibu kota.
“Relasi menjadi faktor krusial. Kualitas karya memang penting, tetapi kepercayaan melalui jejaring sering kali menjadi pintu masuk utama di industri kreatif. Karena itu, jangan menutup diri, cari teman sebanyak-banyaknya, terus belajar, dan bangun relasi dengan siapa pun,” pungkasnya. (dan/but)






