Magetan (beritajatim.com) – Empon–empon cukup dikenal oleh masyarkat Magetan khususnya di Desa Gonggang, Poncol. Berbagai macam tanaman obat dan yang paling mahal adalah jahe merah.
Rimpangnya berbentuk jemari yang menggembung di ruas-ruas tengah. Rasa dominan pedas disebabkan senyawa keton bernama zingeron. Jahe merah yang biasanya digunakan hanyalah bagian rimpangnya saja.
Mengapa hanya bagian rimpangnya saja? Pada bagian rimpang jahe merah terdapat bermacam senyawa alami yang memberikan rasa khas yaitu rasa pedas pada jahe merah tersebut.
Percaya akan kegunaan jahe merah yang mampu menyembuhkan beberapa macam penyakit sudah dilakukan oleh banyak orang. Namun banyak dari masayrakat yang belum mengetahui kandungan jahe merah apa saja yang terdapat dalam jahe merah.
Di dalam jahe merah, terdapat senyawa alami yang begitu berkhasiat bagi kesehatan manusia apabila dikonsumsi dengan cara yang tepat. Terdapat shogaol, gingerol, dan zingeron di dalam jahe merah. Selain itu, ada beberapa senyawa kimia dalam satu rimpang jahe merah.
Terdapat capsaicin, farnesene, cineole, caprylic acid, aspartic, linolenic acid, gingerdione, dan masih banyak lagi senyawa kimia yang terkandung di dalam jahe merah.
Berdasar pengetahuan tersebutlah Achmad Dahlan 42, warga Dukuh Dagung, desa setempat memilih untuk mengolah jahe merah. Awalnya, jahe merah cukup melimpah. Banyak petani sayur yang juga menanam jahe untuk dijual.
Harga yang ditawarkan tengkulak cukup rendah. Dia sangat prihatin. Padahal kualitasnya cukuup bagus. ‘’Akhrinya saya beranikan diri beli agak mahal dari para petani,’’ kata nya.
Tepatnya dua tahun lalu dia mencoba berbagai macam inovasi untuk mengolah beberapa empon–empon. Bahkan, dia juag mempelajari bagaimana membuat minuma instan. Banyak pembelajaran yang dia ambil yakni dari internet dan juga buku. Dia juga berkunjung ke kenalalannya di luar daerah yang sudah mengembangkan minuman rempah instan.
‘’Hingga akhirnya berani beli dari petani dan bikin sendiri untk dijual,’’ terang pria 48 tahun itu.
Minuman instannya memang tidak berasal dari campuran beberapa empon–empon. Masing–masing dibuat minuman instan sendiri – snediri. Pun, sudah ada campuran gula, sehingga hanya tinggal diseduh saja sesuai selera.
‘’Kemasannya memang sengaja tidak dibuat satu kali seduh. Saya membuat dua jenis kemasan yakni kemasan 100 gram dan 200 gram. Dulu per 100 gram saya banderol Rp 10 ribu,’’ katanya.
Pun, semenjak korona merebak di Magetan harganya jadi naik Rp 500 rupiah. Bahkan, banyak sekali pesanan. Setiap hari pasti laku.
‘’Dan bahkan saya sempat terlambat untuk memperbarui stok karena kiriman dari petani masih minim. Namun saya tidak membatasi pesanan. Yang penting siapa cepat dia dapat gitu aja,’’ katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”tokoh”]
Tak hanya beli berupa minuman instan, pemesan juga kadang ingin jahe yang masih fresh. Perkilo jahe merah sekitar Rp 35 ribu. Harga yang cukup tinggi juga untuk tanaman obat lainnya.
‘’Seluruh empon–epmon laku keras sampai saat ini. Semua pun juga bisa terjual habis adlam satu harinya. Baik kencur, kunyit, temulawak, temuireng, temuputih dan lainnya. ‘’Yang pesan dari berbegai daerah,’’ katanya.
Seperti Surabaya dan Jakarta, sduah ada langganannya. Kini pemesan juga berasal dari magetan. Cukup banyak warga Magetan yang kini memesan segala jenis empon–empon padanya. Selain itu, temannya yang berada di luar negeri juga kerap memesan produknya.
‘’Saya promosikan lewat media sosial dan saya yang aktif di sebuah organisasi pendidikan sehingga saya juga mengenalkan produk saat ada pertemuan,’’ ternagnya. [fiq/but]






