Indonesia milik kita yang tercinta ini termasuk negara besar di dunia. Indikator utamanya Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar Rp22 ribu triliun, terbesar ke-16 di dunia. Sayangnya pendapatan per kapita di bawah Rp7 juta per bulan. Dampak dari banyaknya pengangguran, miskin, dan rentan miskin.
Kontributor terbesarnya dari pedesaan berprofesi petani. Hingga Kemenko PMK melaporkan bahwa jumlah petani miskin dan rentan miskin ada 49,8 persen dari semua petani. Sebab utamanya kepemilikan lahan hanya 0,25 ha/KK sebanyak 16,68 juta KK (BPS). Artinya masalah petani, sebab utamanya.
Berangkat dari data fakta di atas maka kalau mau menatap Indonesia jauh lebih baik terbebas dari stunting saat ini 21,6 persen. Karena rendahnya daya beli akibat pengangguran 7,99 juta (BPS), TKI legal ilegal 9 juta (Kemlu) dan kemiskinan 25,7 juta (BPS), utamanya di masyarakat petani.
Maka solusinya harus calon presiden yang kebijakan politiknya berpihak ke Kemendes dan Kementan dengan alokasi anggaran 10 persen dari APBN, setara Rp320 triliun per tahun. Peruntukannya cetak sawah 7 juta hektar lagi di lahan gundul pasca pembalakan di Kalimantan. Untuk petani agar minimal 3 ha per KK. Maka tercipta lapangan kerja di pedesaan, petani sejahtera dan swasembada pangan.
Konkretnya, untuk padi 14 juta hektar agar beras 35 juta ton per tahun, tidak impor. Kedelai 1,9 juta hektar agar hasilnya 3,2 juta ton per tahun setara jumlah impor. Agar menanam tebu 800 ribu hektar agar dapat gula 5,3 juta ton per tahun setara jumlah impornya. Jagung 600 ribu hektar agar tiada impor. Bawang putih 110 ribu hektar, agar panen 640 ribu ton per tahun setara jumlah impor.
Impor sapi indukan 5 juta ekor agar anaknya yang jantan saja 2,1 juta ekor per tahun setara jumlah impor. Guna meniadakan stunting karena kurang protein hewani. Juga perlu relokasi anak sapi yang betina dari Provinsi NTT, NTB, Jatim dan Sulawesi ke Kalimantan agar daging murah karena pakan berlimpah, tanpa impor lagi.
Serius program melahirkan pengusaha baru usia muda. Sebanyak 14 juta lagi, setara 5 persen dari jumlah penduduk agar sesuai rasio negara maju 8,47 persen dari penduduknya. Agar menyerap pengangguran 7,99 juta dan TKI 9 juta. Dengan begitu akan nol pengangguran dan kemiskinan. PDB dan pendapatan per kapita naik tajam.
Implikasi lainnya lagi, serapan hasil riset (invensi) para peneliti lebih banyak lagi. Karena off taker hasil penelitian adalah para praktisi (entrepreneur). Sehingga indeks inovasi global tidak hanya peringkat ke-75 saja dan indeks kompleksitas ekonomi tidak hanya peringkat ke-61 di dunia. Ini sangat penting sebagai modal dasar daya saing masyarakat dan bangsa Indonesia.
Menjaga dengan serius kelebihan Indonesia. Misal hilirisasi industri sawit. Indonesia penghasil sawit terbesar 53 juta ton/tahun sekaligus konsumen terbesar di dunia 25,3 juta ton per tahun. Devisa didapat dari sawit saja Rp630 triliun per tahun. PDB dari sawit Rp1.540 triliun setara 7 persen dari PDB Nasional.
Bahkan sejak Biodiesel, Bioavtur dan Bensawit jika dimaksimalkan hasil sawit ke energi maka akan minus 50 juta ton per tahun. Ini butuh solusi kebijakan jika mau dapat devisa Rp630 triliun tapi juga energi terbaharukan dari sawit semua. Harus ada peningkatan produktivitas atau perluasan khusus untuk energi di lahan gundul pasca pembalakan.
Solusi cepat adalah khusus petani sawit bebaskan dari ancaman klaim dari Kemen KLHK agar proses peremajaan sawit benih legal inovasi bisa skala luas lagi. Ingat sawit menyerap tenaga kerja langsung 4,2 juta dan tidak langsung 12 juta. Jangan sampai mengulangi kesalahan fatal gula, dulu eksportir terbesar ke-2, saat ini importir terbesar di dunia.
Maka pilihlah calon presiden yang punya progja terukur memberi solusi konkret di atas. Demi memastikan Indonesia jadi negara maju karena pemimpinnya punya leadership mumpuni yang disegani dunia dan berjiwa entrepreneur. Ini sangat penting bagi rakyat Indonesia dan keluarga petani utamanya.
Wayan Supadno,
Alumni Unair Surabaya dan Pengusaha Pertanian






