Gresik (beritajatim.com) – Perusahaan smelter single dine terbesar di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE Gresik, PT Freeport Indonesia (PTFI) akan melakukan tahap uji coba (commissioning) pada pekan pertama Juni 2024.
Untuk memastikan kesiapan itu, President Direktur PTFI Tony Wenas mengecek ke lapangan sebelum proses commissioning. Mengenakan baju putih dan celana jeans biru, Tony Wenas memperhatikan dengan seksama sistem produksi peleburan tembaga.
“Proses commissioning sudah siap. Sesuai schedule minggu pertama bulan depan. Mesin sudah menyala dan terkoneksi. Termasuk jetty (geladak) pelabuhan di tempat kami. Secara subtansial semua proses ini tidak ada kendala,” ujarnya, Sabtu (25/5/2024).
Tony Wenas melanjutkan, sekarang proyek pembangunan smelter di Gresik sudah 95 persen. Sisanya, dia optimistis bisa selesai dalam waktu dekat sebelum proses commissioning.
“Saya datang ke sini ingin melihat langsung. Meski setiap hari ada laporan terkait dengan progres pembangunan smelter PTFI di Gresik. Setelah melihat sendiri listrik sudah berfungsi termasuk mesin sudah on. Serta jetty pelabuhan bagaimana mengambil konsentrat dari kapal lalu dialirkan melalui conveyor, dan berbagai macam fasilitas lainnya,” tuturnya.
Proses semua itu, kata dia, bagian dari upaya PTFI menyelesaikan proyek smelter secara subtansial, setingannya commissioning dulu. Kemudian beroperasi tahap pertama pada Agustus 2024, menghasilkan 850 ribu ton konsentrat tembaga.
“Tahap pertama uji coba mesin dulu. Ada beberapa tahapan sebelum berproduksi penuh pada Desember 2024,” katanya.
Ia menambahkan, smelter di KEK JIIPE Gresik merupakan single dine terbesar di dunia. Jadi tidak mudah menyelesaikannya tergesa-gesa karena banyak tantangan mengingat pembangunan proyek ini melibatkan banyak sub kontraktor, vendor serta supplyer.
“Bila dihitung semua, proyek pembangunan ini sudah menghabiskan USD3,6 miliar. Untuk menyatukan ini membutuhkan tantangan. Namun, proyek industri smelter ini bisa diselesaikan dengan baik dan tepat waktu,” imbuhnya.
Mengenai izin ekspor konsentrat tembaga yang dihasilkan di Gresik, Tony Wenas mengungkapkan hal tersebut masih dalam proses. Soal perizinan ini, pihaknya terus berupaya menyelesaikan secara subtansial.
“Soal itu kami segera mendapat jawaban dari pemerintah. Ini semua berkaitan dengan produksi. Sebab, bila diizinkan ekspor lagi sampai Desember 2024. Maka pendapatan dari ekspor ini ke negara mencapai Rp45 triliun karena mampu memproduksi 1,7 juta ton konsentrat tembaga, dan 600 ribu ton katoda tembaga per tahun. Sebaliknya, kalau seandainya izinnya sampai Mei 2024. Penerimaan negara hanya Rp40 triliun,” tuturnya.
Seperti diketahui, produk utama smelter PTFI di Gresik adalah katoda tembaga, emas, perak murni batangan, serta platinum group metal (PGM). Adapun produk lainnya adalah asam sulfat, gipsum, dan timbal. Smelter single dine akan berproduksi setelah commissioning tidak ada kendala. (dny/beq)






