Ponorogo (beritajatim.com) – Latihan gabungan (Latgab) pramuka penegak dari berbagai sekolah di bumi reog dilakukan di STKIP PGRI Ponorogo. Ya, sedikitnya ada 54 pramuka penegak yang mengikuti latgab yang diinisiasi oleh Racana Suro Menggolo dan Dewi Songgolangit.
Latgab dengan tema Rencana Sebelum Bencana itu, merupakan bentuk komitmen Pramuka STKIP PGRI Ponorogo untuk berkontribusi terhadap masyarakat. Terutama dalam bidang mitigasi bencana.
STKIP PGRI Ponorogo mendatangkan pemateri yang expert di bidang mitigasi bencana, yakni dari personel Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo dan Pemadam Kebakaran (Damkar) Ponorogo.
Mitigasi merupakan upaya untuk mengurangi risiko bencana. Baik sebelum maupun sesudah bencana terjadi. Dengan paham mitigasi, tentu diharapkan bisa meminimalisir kerugian yang diakibatkan oleh peristiwa bencana.
“Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik sebelum maupun setelah bencana terjadi,” ungkap Suwito, salah satu personel BPBD Ponorogo, Sabtu (29/06/2024).
Suwito menjelaskan berbagai potensi bencana yang ada di Ponorogo. Penyampaian Suwito pun terlihat asik, dengan dibumbui cerita-cerita pengalamannya dalam bekerja. Mulai dari peristiwa longsor di Banaran Pulung hingga upaya mitigasi bencana lain. Suwito menekankan kesiapsiagaan menjadi poin yang utama dalam mitigasi bencana.
“Kesiapsiagaan ini ditransformasikan ke dalam kehidupan. Misalnya, selalu sedia peralatan untuk menanggulangi dampak bencana,” katanya.
Materi kedua disampaikan oleh Joni dari pihak Damkar Ponorogo. Joni menjelaskan berbagai faktor penyebab kebakaran. Selain itu, pihaknya juga menyampaikan materi tentang penanggulangan bencana kebakaran, mulai dari tindakan preventif, represif, dan rehabilitasi.
Peserta terlihat antusias mengikuti acara hingga akhir. Apalagi, setelah jeda istirahat, mereka melakukan praktik pemadaman api di lapangan utama STKIP PGRI Ponorogo. Pihak Damkar Ponorogo membimbing peserta dengan sabar dan telaten, mulai dari teknik memadamkan api dengan karung goni, dengan air, hingga Alat Pemadam Api Ringan (APAR).
“Meminimalisir bencana kebakaran dengan melakukan tindakan preventif, represif dan rehabilitasi,” katanya.
Ketua STKIP PGRI Ponorogo, Ahmad Nur Ismail berharap anggota pramuka bisa menjadi pionir pentingnya nilai-nilai Pancasila. Mengaplikasikan profil pelajar Pancasila dalam kehidupan, tentu harus dimiliki dan dilaksanakan oleh setiap anggota pramuka dalam kehidupan.
“Sesuai dengan Hymne Pramuka, ketakwaan pada Tuhan Yang Maha Esa ,” ungkapnya.
Sementara itu, Sapta Arif, selaku pembina putra pramuka STKIP PGRI Ponorogo mengungkapkan kegiatan ini menjadi awal dari berbagai kegiatan pramuka di kampus literasi. Menurutnya, ketika pramuka lain mengedepankan kompetisi dalam berkegiatan, pramuka STKIP PGRI Ponorogo justru menekankan pentingnya berkolaborasi dan berbagi.
“Ke depan, selain perlombaan, kita bisa merancang kegiatan ke arah berbakti. Misalnya, kemah bakti dengan konsep yang berbeda tentunya,” pungkas Sapta. (end/ian)






