Malang (beritajatim.com) – Peringkat PISA Indonesia tahun 2022 alami peningkatan lima hingga enam peringkat dari PISA 2018. Namun mengalami penurunan skor dalam hal kemampuan membaca, matematika, dan sains 12-13 poin. Dosen bahasa Indonesia Universitas Islam Malang (Unisma) yang juga praktisi sastra anak, Dr. Ari Ambarwati, M.Pd. menilai Kemdikbudristek perlu membaca hasil PISA dengan kritis.
PISA atau Programme for International Student Assessment adalah survei internasional kemampuan siswa tiga komponen pembelajaran yang dilakukan setiap tiga tahun sekali. Survei dari Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) ini mewakili populasi siswa usia 15 tahun dari setiap negara. Di Indonesia, sampel berasal dari seluruh wilayah, termasuk daerah tertinggal.
“Saya sepakat dengan tulisan prof Anita Lie tentang PISA, itu harusnya jadi alarm buat Kemdikbudristek agar segera buat asesmen lain. Analogi pakar pendidikan Eliot Eisner mengatakan menimbang seekor sapi tidak akan membuatnya gemuk. Kritik ini ditujukan pada kesalahan penggunaan asesmen dalam reformasi sistem pendidikan,” ujar Ambar kepada beritajatim.com, Rabu (6/12/2023).
Peringkat PISA Indonesia Naik Tapi Skor Tidak
Peringkat PISA Indonesia naik, tetapi skornya tidak. Ambar menilai, hal itu sudah diprediksi, salah satunya karena learning loss ketika pandemi. Namun, setiap kali hasil PISA dirilis, Kemdikbudristek tampaknya belum membuat rencana tindak lanjutnya.
“Contohnya adalah buku-buku cerita bergambar hasil sayembara bacaan literasi Kemdikbud Ristek, yang masih sibuk dengan penjenjangan buku dan membatasi sekian kata dalam satu halaman, padahal seharusnya pengalaman membaca lebih diutamakan,” ungkap penulis buku antologi puisi anak berjudul Rempah Berkisah ini.
Menurut Ambar, ada buku-buku tertentu yang harus diakses anak, dengan moda daya baca rendah adalah perkara lain.
“Sebagai akademisi dan praktisi sastra anak saya berharap Kemdikbudristek membaca hasil PISA dengan kritis dan tidak semata fokus pada peningkatan peringkat, sebab faktanya terjadi downtrend, tren menurun, skor negara lain juga turun akibat learning loss global dari faktor pandemi Covid-19. Kualitas pembelajaran pun menurun secara global,” ujar praktisi yang sekaligus pakar sastra anak ini.
Kemdikbud Periksa Ulang Aktivitas Pertumbuhan Daya Literasi
Sebaiknya, lanjut Ambar, Kemdikbudristek dapat memeriksa ulang ketepatan sasaran aktivitas yang mendorong tumbuhnya daya literasi. Ia juga mempertanyakan terkait gerakan literasi nasional. Meski begitu, dosen PBSI Unisma ini mengapresiasi Puskurbuk yang sudah melibatkan banyak pihak, baik penulis bacaan anak dan praktisi untuk menghasilkan buku bacaan nonteks pelajaran.
“Buku-buku itu diunggah di platform Sistem Informasi Perbukuan Indonesia dan bisa diakses dengan mudah. Meski kritik terhadap konten buku hasil sayembara bacaan literasi: cerita bergambar untuk anak, yang diselenggarakan sejak 2016 harus saya sampaikan karena fokus pada penjenjangan buku yang cenderung menghitung kosa kata dalam satu halaman tinimbang mengeksplorasi pengalaman membaca,” kata Ambar.
Selanjutnya perlu juga difokuskan pada gerakan literasi yang berkembang di daerah tertentu. Daerah ini seharusnya menjadi mitra utama sekolah untuk meningkatkan daya dan kecakapan literasi siswa.
Kemdikbudristek mestinya memberi fasilitasi agar sinergi bisa terbangun. Lumbung literasi daerah kuat maka seharusnya berdampak positif pada sekolah-sekolah sekitarnya. Penguatan program literasi dibangun dengan basis, kebutuhan, dan preferensi daerah masing.
“Sudahkah itu teraktualisasikan dalam program” literasi yang dilaksanakan? Tak relevan jika risau dengan peringkat antarnegara dalam PISA sebab luasan wilayah Indonesia berkorelasi dengan kompleksitas tantangan pendidikan,” tutup perempuan yang dulunya pernah berprofesi sebagai jurnalis ini. (Dan/Aje)






