Blitar (beritajatim.com) – Prabowo-Gibran berhasil menang di kandang banteng, yakni Kota Blitar. Berstatus sebagai basis suara PDIP, Prabowo-Gibran justru bisa menang telak dengan perolehan suara mencapai 59,5 persen.
Paslon nomor urut 02 itu bisa menumbangkan Ganjar-Mahfud yang notabene diusung oleh PDIP. Di kandangnya sendiri, Ganjar-Mahfud hanya mampu meraup suara 28,4 persen saja.
Kondisi ini tentu mencoreng status Kota Blitar sebagai Kandang Banteng. Pada pada 2 Pemilu sebelumnya, yakni tahun 2014 dan 2019, Paslon yang diusung oleh PDIP selalu unggul telak di Kota Blitar.
Wali Kota Blitar Santoso pun angkat bicara mengenai hal itu. Sebagai kader PDIP dan sekaligus Wali Kota, Santoso tentu juga bertanggung jawab atas perolehan suara Ganjar-Mahfud di Kandang Banteng.
“Itu tidak jadi masalah, karena perolehan suara di lapangan merupakan pilihan rakyat,” kata Santoso menjawab tumbangnya Ganjar-Mahfud di Kandang Banteng, Kamis (15/02/24).
Sejatinya meski berstatus Kandang Banteng, PDIP tidak terlalu kuat di Blitar. Terbukti sejak tahun 1999, paslon Capres-Cawapres yang diusung PDIP tidak pernah menang di Kota Blitar, kecuali saat Jokowi maju.
Pada Pemilu 2014 dan 2019, Jokowi yang diusung PDIP sebagai Capres menang telak atas lawan-lawannya di Kota Blitar. Anomali kini terjadi saat Jokowi meninggalkan PDIP, Kandang Banteng (Kota Blitar) tak lagi menyeramkan.
Prabowo yang dipasangkan dengan anak Jokowi, yakni Gibran, melenggang mulus menumbangkan Capres-Cawapres yang diusung oleh PDIP.
“Selain itu, ini juga mencerminkan kondisi riil di masyarakat, sehingga harus dihormati, menang kalah itu hal wajar dan biasa di dunia politik,” imbuhnya.
Kalau berbicara Blitar sebenarnya ada tokoh yang sangat lekat dengan PDIP yakni Ir Soekarno. Sebagai presiden pertama sekaligus ayah dari Megawati Soekarnoputri, sosok Ir Soekarno tentu menjadi magnet suara tersendiri bagi warga.
Namun entah kenapa di Pemilu 2024 ini, suara Capres-Cawapres yang diusung oleh PDIP justru melempem di kandangnya sendiri. Apakah ini efek dari PDIP ditinggalkan oleh Jokowi.
“Ini sekali lagi belum final masih menunggu hasil resmi dari KPU, tapi apapun itu kini akan pilihan riil warga,” tutupnya. [owi/but]






