Jember (beritajatim.com) – Basis konstituen Partai Persatuan Pembangunan di Kabupaten Jember, Jawa Timur, terbelah dalam urusan kecenderungan dukungan terhadap kandidat presiden pada pemilihan umum mendatang.
“Kami tidak menutup mata bahwa ada kiai-kiai dan beberapa kelompok masyarakat yang menghendaki PPP mencalonkan Anies Baswedan. Tapi ada suara-suara yang menghendaki Ganjar Pranowo,” kata Ketua Dewan Pimpinan Cabang PPP Madini Farouq, di sela-sela acara pendidikan politik di Hotel Bintang Mulia, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Minggu (23/10/2022).
Madini mengatakan, arus besar konstituen PPP di Jember menyebut dua nama tersebut. “Tapi kami kan tidak bisa memutuskan. Yang memutuskan DPP (Dewan Pimpinan Pusat). Kami hanya mengusulkan,” katanya.
[berita-terkait number=”2″ tag=”anies-baswedan”]
Sejauh ini, Anies dan Ganjar sama-sama kuat. “Jember ini miniatur Jawa Timur. Di Jawa Timur ada Mataraman dan Tapal Kuda. Jember juga begitu. Wilayah Jember yang mayoritas Jawa menghendaki Ganjar. Sementara yang mayoritas Madura rata-rata menghendaki Anies Baswedan,” kata Madini.
Nama Anies dan Ganjar sama-sama muncul dalam Musyawarah Kerja Wilayah PPP Jatim beberapa waktu lalu. “Di samping itu, sebagai kebanggaan, kami memunculkan kader internal Pelaksana Tugas Ketua Umum PPP Mardiono dan Wakil Gubernur Jawa Tengah Gus Yasin sebagai figur alternatif,” kata Madini.
“Dewan Pimpinan Wilayah PPP Jatim mencalonkan beberapa nama untuk digodok di level DPP. Ada nama Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Khofifah Indar Parawansa. Ini tiga gubernur di Pulau Jawa yang layak ditampilkan di tingkat nasional,” kata Madini.
[berita-terkait number=”2″ tag=”ganjar-pranowo”]
“Ada juga nama Eric Thohir, Sandiaga Uno sebagai calon wakil presiden, yang itu semua kami jaring dan dikirim ke DPP. Nanti DPP akan menggodok mana kira-kira formula yang paling pas untuk membawa Indonesia menuju ke arah yang lebih baik daripada kondisi saat ini,” kata Madini.
“Entah bagaimana nanti komunikasinya, karena dalam pencalonan presiden, PPP harus melakukan komunikasi-komunikasi politik dan berkoalisi. PPP membentuk Koalisin Indonesia Bersatua bersma PAN dan Golkar. Tapi ini kan masih terus, dalam rumusan-rumusan.” kata Madini.
Indonesia tak cukup dengan presiden yang pintar. “Tapi harus figur yang paham kondisi rakyat, dan turun ke bawah. Orang pintar dan cerdas dalam melihat aspirasi ke bawah,” kata Madini. [wir/suf]






