Madinah (beritajatim.com) – Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi memastikan seluruh lini layanan siap menyambut kedatangan perdana jemaah haji Indonesia kloter pertama yang dijadwalkan tiba di Tanah Suci pada Rabu, 22 April 2026. Guna menjamin kelancaran tersebut, para petugas yang telah tiba lebih awal langsung melakukan rapat koordinasi teknis dan pengecekan lapangan di berbagai sektor kerja.
Kepala Bidang Transportasi PPIH Arab Saudi, Syarif Rahman, menyatakan bahwa persiapan matang menjadi kunci utama dalam memberikan pelayanan terbaik bagi para tamu Allah.
Syarif menekankan pentingnya kesiapan infrastruktur sebelum jemaah menginjakkan kaki di Arab Saudi.
“Jadi jemaah kita yang kloter pertama itu akan tiba Insya Allah di Arab Saudi pada tanggal 22 April 2026. Tentu kita perlu persiapan yang matang untuk menyambut kedatangan jemaah tersebut,” ujar Syarif di Arab Saudi.
Implementasi Visi Tri Sukses Haji
Langkah cepat para petugas di lapangan ini merupakan bentuk nyata dari visi Tri Sukses Haji yang dicanangkan oleh Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj). Visi tersebut meliputi tiga pilar utama, yakni Sukses Ritual, Sukses Ekosistem Ekonomi, dan Sukses Peradaban.
Syarif menjelaskan bahwa pengecekan fisik lokasi kerja dilakukan agar seluruh petugas memiliki pemahaman mendalam mengenai medan tugas mereka masing-masing. Koordinasi intensif dilakukan mulai dari kesiapan hotel hingga kesiapan armada transportasi.
“Oleh karena itu, petugas yang hari ini sudah hadir akan melakukan rapat persiapan koordinasi, termasuk pengecekan lapangan, lokasi di mana sektor mereka bekerja,” jelasnya.
Pelayanan Inklusif dan Ramah Disabilitas
Penyelenggaraan haji 1447 H/2026 M ini juga memberikan perhatian khusus pada aspek inklusivitas. Program layanan dirancang agar ramah terhadap lansia, perempuan, serta penyandang disabilitas demi menciptakan lingkungan ibadah yang aman bagi seluruh kelompok jemaah.
Untuk mewujudkan hal tersebut, PPIH melakukan sinkronisasi data dan operasional dengan berbagai penyedia layanan di Arab Saudi. Fokus koordinasi mencakup aspek krusial yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan harian jemaah selama masa operasional.
“Koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Contohnya dengan pihak pengelola konsumsi, pihak pengelola hotel, pihak pengelola bis untuk angkutannya, dan lain sebagainya,” terangnya.
Pengecekan komprehensif yang dilakukan sejak dini diharapkan mampu memitigasi potensi kendala teknis di lapangan. Dengan demikian, petugas dapat menjalankan fungsi pelayanan, pelindungan, dan pembinaan secara optimal sesuai hasil bimbingan teknis yang telah diterima sebelumnya.
“Sehingga persiapan nanti diharapkan tanggal 22 itu Insya Allah semua petugas sudah memahami lokasinya, tugas dan fungsinya sebagaimana yang sudah dibimtekkan dan bisa melayani kedatangan jemaah,” tutup Syarif. [ian/aje]






