Surabaya (beritajatim.com) – Cantik, pintar dan berprestasi adalah penjabaran sempurna dari sosok Firda Iragama Wessels, mahasiswa PPDS FK Unair mendapat gelar Puteri Pendidikan Indonesia Tahun 2021. Gelar itu ia peroleh dalam acara Grand Final Pemilihan Putera Puteri Pendidikan Indonesia 2021 yang digelar di Banana Inn Hotel, Bandung. Ia maju ke babak final mewakili Jawa Timur setelah sebelumnya memenangkan pemilihan tingkat regional.
Dokter yang akrab disapa Firda ini mengaku tak menyangka bakal mendapatkan gelar tersebut,” saya tidak tertalu menyangka akan menang karena ini pageant pertama yang saya ikuti dan finalis yang lain pun sangat berkualitas,” tuturnya.
Mendapat gelar Puteri Pendidikan Indonesia 2021, Firda ingin menjalankan visinya sebagai edukator di bidang kesehatan,”karena saya rasa saat ini masih belum ada ya, lulusan pageant yang fokus ke edukasi kesehatan. Maka dari itu saya ingin mengawalinya dengan gelar yang saya miliki sekarang,” paparnya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”unair”]
Salah satu poin penilaian dalam pemilihan Putera dan Puteri Pendidikan Indonesia adalah advokasi. Yaitu bagaimana seorang putri pendidikan bisa menjalankan program-program untuk edukasi ke masyarakat. Karena Beckground Firda kesehatan, fokus advokasinya pun di bidang edukasi kesehatan. Ada tiga program dari berbagai platform yang ia kembangkan. Pertama adalah edukasi melalui sosial media instagram yakni Tanya Ke Dokter.
Melalui ini, Firda membuatkonten edukasi kesehatan umum yang biasa menjadi pertanyaan masyarakat. Di sini dia juga melakukan bincang interaktif dari dokter membahas suatu topik tertentu. Selanjutnya adalah Bincang Pendidikan (Bidik). Di mana di Bidik. Masih sama di Instagram, dia ingin menjadi penengah yang mempertemukan masyarakat dengan pembuat kebijakan untuk berdiskusi mengenai isu-isu di dunia Pendidikan. Dengan itu dia berharap, ada kesepahaman dari dua belah pihak.
Dan terakhir adalah Aplikasi Promilku yang bisa diunduh gratis melalui google play. Aplikasi ini ditujukan untuk ibu hamil agar bisa mengukur kebutuhan nutrisi yang baik dan benar. Aplikasi ini lahir karena keprihatinan Firda terhadap ibu hamil di Indonesia yang masih banyak percaya mitos dan ibu kekurangan gizi. Akibatnya, saat dilahirkan, bayi kekurangan berat badan. Menjadi health educator atau edukator di bidang kesehatan adalah motivasi terbesar Firda mengikuti ajang Putra & Putri Pendidikan Indonesia.
“Karena harus ada platform di mana orang bisa melihat kita. Gak mungkin orang bisa bicara ke kita, mengikuti apa yang kita omongkan kalau kita bukan siapa-siapa. Tidak melakukan apa-apa. Jadi saya harap melalui gelar ini advokasi kesehatan saya lebih bisa berjalan.”
Di ajang Grand inal, PPDS Ilmu Penyakit Dalam Semester 3 ini membawakan beberapa kostum dari desainer Jawa Timur. Meski masing-masing hadir dengan konsep berbeda, namun tetap ada garis merah untuk kostum yang ia kenakan. Yakni tidak terlalu terbuka dan memancarkan keanggunan.
“Jadi ada sekitar 10 busana itu hampir semuanya dibuatkan khusus yang menyesuaikan karakter saya. Karena saya kurang nyaman dengan pakaian terbuka, saya selalu minta dibuatkan pakaian yang saya nyaman memakainya,” ujar gadis berusia 25 tahun ini.
Gaun-gaun yang ia kenakan rata-rata berkonsep puteri. Seperti Ice Priness yang terinspirasi dari Film Frozen. Bahkan, kostum nasional yang ia kenakan bertemakan Dewi Waihta, Istri dari Prabu Minakjinggo yang menggambarkan sosok puteri yang cantik dan memilikicinta yang suci. Gaun itu merupakan karya Jusuf Bahtiar. Ekspresi keanggunan ditampilkan pada busana ala puteri kombinasi dengan biru dan hitam.
“Dari Jawa Timur yang maju ada tiga orang, dua puteri yang lain menampilkan kostum jaranan, itu sangat maskulin dan tidak sesuai dengan karakter saya ya, maka oleh desainer dibuatkan kostum yang lebih cocok untuk karakter saya,” tuturnya seraya tertawa.
Di Malam Grand final, Firda mengenakan busana dari Desainer Bubu Ramadan di mana ia tampil menawan dengan balutan gaun slim fit berwarna merah dengan aksen ruffle. Selain itu, Puteri Pendidikan Indonesia 2021 ini juga yang memiliki darah Belanda ini juga mengenakan kostum-kostum dari desainer lokal seperti Ardi Jaya dan Nathaniaco. “Melalui ini juga saya ingin menunjukkan bahwa busana dari desainer daerah juga bisa bersaing dan tak kalah dengan desainer nasional.”
Tak hanya cantik, banyak aspek penilaian sehingga Firda layak mendapatkan gelar Putri Pendidikan Indonesia 2021. Ia menuturkan, banyak sekali penilaian dalam ajang ini. Pertama penilaian selama masa karantina. Mulai dari cara presentasi, nilai ujian kompetensi serta bagaimana dia mengutarakan pendapat dalam Forum Group Disscussion (FGD). Firda menuturkan, ia juga menjalani interview personal agar dewan juri mengetahui karakternya secara lebih dalam. Ini semua masuk aspek penilaian selama masa karantina.
Sementara Grand final adalah hari penentuan. Bagaimana calon putra putri pendidikan ini layak menjadi pemenang . Mulai dari cara pembawaan diri, cara berjalan, cara berbicara dan yang tak kalah penting adalah grooming alias penampilan fisik. Disimak dalam rekaman grand Final Pemilihan Putera dan Puteri Pendidikan Indonesia Tahun 2021, Firda mantab dalam menjawab semua pertanyaan dewan juri.
“Ngapain?” adalah kata pertama yang dilontarkan oleh teman-teman PPDSnya saat gadis berdarah Belanda ini melontarkan keinginannya mengikuti ajang ini. Bahkan di awal, keluarganya pun tak mendukung. Sebagai seorang residen, tentu waktu Firda tersita untuk sekolah. Apalagi dunia pageant sangat jauh dari kesehariannya. Namun Firda berhasil membuktikan bahwa dia bisa melakukan itu semua. “Saat dinyatakan menang, dosen-dosen, keluarga dan teman saya heboh sampai pajang saya di statusya saya bersyukur mendapatkan dukungan akhirnya,” tukasnya. [kun]







