Malang (beritajatim.com) – Pos Polisi Kayutangan Heritage di Jalan Basuki Rahmat menjelma jadi ruang protes lantaran penuh dengan poster usut tuntas Tragedi Kanjuruhan. Gelombang protes atas pengusutan Tragedi Kanjuruhan dari sejumlah elemen masyarakat di Malang terus berlanjut.
‘Usut Tuntas Tragedi Kanjuruhan’, ‘Arek Malang Melawan’, ‘Big Boss Not Found’, ‘Man of The Match Brutality’, ‘Lawan dan Hentikan Brutalitas Aparat’ tulisan dalam poster yang terpampang di Pos Polisi Kayutangan. Bahkan juga terpampang poster bergambar wajah salah satu penembak gas air mata ‘Apakah Ibuku Masih Bangga Padaku, Merenggut 135 Nyawa’ tulis poster itu.
Salah satu warga yang melintas di kawasan Kayutangan Heritage. Rino (31) menilai protes yang kian meluas mungkin disebabkan oleh janggalnya penanganan hukum atas Tragedi Kanjuruhan. Di mana dalam kasus ini, hanya berhenti di 6 tersangka dengan pasal kelalaian. Sementara keluarga korban dan Aremania terus menuntut keadilan.
“Saya kira ya wajar saja mulai banyak poster, mural atau graffiti kritikan itu. Soalnya saya lihat penegakan hukum juga ada yang mengganjal sih,” ujar Rino, Jumat (13/1/2023).
[berita-terkait number=”3″ tag=”tragedi-kanjuruhan”]
Rino menganggap protes yang dilakukan Aremania dengan menempel poster di pos polisi sebagai reaksi yang wajar. Menurutnya, aksi yang dilakukan Aremania adalah salah satu puncak kekesalan dan kekecewaan mereka terhadap penyelesaian kasus Tragedi Kanjuruhan yang dianggap belum tuntas.
“Apalagi kan yang mati ada ratusan orang ya, banyak anak muda dan anak kecil juga. Ya soal aksi ini, salah tidak salah menurut saya masih wajar. Ya, saya harap sih semoga bisa kelar kasus ini dan adil,” tandasnya.
Sebagai informasi Tragedi Kanjuruhan adalah peristiwa sepak bola paling memilukan kedua di dunia. Sebanyak 135 orang meninggal dunia dan 600 lebih orang terluka dalam peristiwa yang terjadi pada Sabtu, 1 Oktober 2022 itu. [luc/beq]






