Surabaya (beritajatim) – Ketua KONI Jawa Timur, M. Nabil, menyatakan bahwa ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur IX telah memenuhi ekspektasi sebagai wadah peningkatan prestasi olahraga daerah. Dalam rapat evaluasi, ia mengungkapkan bahwa banyak atlet muda menunjukkan potensi besar, bahkan 51 nomor pertandingan berhasil memecahkan rekor.
“Potensi ini harus terus dibina secara berkelanjutan di tingkat daerah. Pembinaan bukan hanya menjadi tanggung jawab masing-masing cabang olahraga (cabor), tetapi juga merupakan tugas KONI daerah untuk aktif mendampingi atlet,” ujar Nabil, Kamis (24/7/2025).
Ia menekankan bahwa para atlet jebolan Porprov adalah cikal bakal kekuatan Jawa Timur di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON), single event tingkat nasional, hingga kompetisi internasional.
“Kalau bicara Jawa Timur, pasti kita ingat Eko Yuli Irawan di Olimpiade. Dua kali meraih medali perunggu, lalu setelah pembinaan yang berkelanjutan, ia berhasil meraih medali perak. Itu bukti keberhasilan pembinaan jangka panjang,” katanya.
Nabil juga menyoroti pentingnya regenerasi dan sistem pembinaan yang berkelanjutan agar capaian atlet Jawa Timur tidak mengalami penurunan.
“Porprov adalah ajang penting. Banyak atlet nasional yang berawal dari sini. Maka, regenerasi dan pembinaan harus terus berjalan,” imbuhnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum KONI Jatim, Irmantara Subagio, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pendataan terhadap seluruh atlet peraih medali dan pemecah rekor di ajang Porprov IX.
Dari hasil tersebut, KONI Jatim sementara ini memilih 200 atlet dari cabang olahraga Olimpiade dan nomor perorangan untuk mengikuti tes fisik dan kesehatan sebagai langkah awal pembinaan berkelanjutan.
“Banyak atlet yang sebenarnya belum meraih medali, namun tetap memiliki potensi besar. Tes ini kami lakukan untuk mengetahui kondisi dasar mereka,” jelas Irmantara, yang akrab disapa Ibag.
Ia menambahkan, hasil tes tersebut akan menjadi acuan daerah dalam menyusun skema pembinaan.
“Olahraga prestasi itu memaksa fungsi tubuh bekerja optimal. Jika ada ketidakseimbangan atau gangguan fungsi tubuh, kami ingin mengetahuinya lebih awal agar bisa ditangani sejak dini,” pungkasnya. [way/aje]






