Ponorogo (beritajatim.com) – Kabupaten Ponorogo berkontribusi nyata dalam mewujudkan program swasembada pangan nasional Presiden Prabowo dengan mencatatkan produksi gabah tahunan mencapai 546 ribu ton. Capaian strategis ini didukung oleh produktivitas lahan yang stabil pada angka 6 hingga 7 ton per hektare di lahan seluas 78 ribu hektare.
Pemkab Ponorogo di bawah kepemimpinan Plt Bupati Lisdyarita terus memacu sektor pertanian sebagai tulang punggung ekonomi melalui metode yang efektif dan berkelanjutan. Fokus utama pemerintah daerah saat ini adalah meratakan kualitas produksi sekaligus menjamin kesejahteraan petani di masa depan.
Data menunjukkan performa produksi padi di wilayah ujung barat Jawa Timur ini tetap konsisten pada kisaran 468 ribu hingga 546 ribu ton gabah setiap tahunnya. Keunggulan ini membuat sejumlah wilayah di Ponorogo mampu melakukan siklus tanam hingga empat kali dalam satu tahun.
“Resepnya sederhana, sebelum padi di panen petani sudah sebar benih di halaman rumah mereka mempersingkat waktu tunggu tanam,” jelas Lisdyarita yang akrab disapa Bunda Rita pada Kamis (8/1/2026). Strategi persemaian mandiri ini terbukti ampuh dalam menjaga ritme produksi tanpa harus mengorbankan kualitas hasil panen.
Pola tanam cepat tersebut menjadi solusi jitu dalam menghadapi tantangan cuaca ekstrem dan fluktuasi musim yang sering menghambat produktivitas. Melalui efisiensi waktu tunggu, siklus panen dapat berlangsung lebih rapat dan terukur di seluruh wilayah persawahan.
Produktivitas yang tinggi ini menempatkan Ponorogo secara konsisten dalam jajaran sepuluh besar daerah penghasil padi terbesar di Jawa Timur. Menariknya, sebaran waktu panen di daerah ini tidak berlangsung serempak sehingga pasokan gabah bulanan tetap terjaga stabil.
“Panen berbeda-beda antar kecamatan, yang serempak kebanyakan di Ponorogo wilayah selatan,” tambah Bunda Rita mengenai distribusi hasil pertaniannya. Stabilitas pasokan ini menjadi nilai tambah yang krusial bagi ketahanan pangan daerah maupun skala nasional.
Selain optimalisasi pola tanam, Pemkab Ponorogo juga gencar melakukan modernisasi pertanian melalui pembaruan alat dan mesin pertanian (alsintan). Infrastruktur pendukung seperti jaringan listrik juga mulai menyentuh area persawahan untuk mendukung sistem irigasi yang lebih modern.
Masuknya listrik ke sawah diharapkan mampu mempermudah akses air bagi petani, terutama saat memasuki musim kemarau panjang. Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi besar pemerintah untuk menarik minat generasi muda agar mau terjun ke sektor agraris.
“Listrik sekarang sudah masuk persawahan juga, kemarau jadi tidak kesulitan air. Harapan kami ada regenerasi petani milenial dan gen z mau bertani,” tegas Bunda Rita. [end/beq]






