Surabaya (beritajatim.com) – Polsek Simokerto memberikan 4 kaki palsu bagi 4 penyandang disabilitas di wilayah hukumnya. Bantuan kaki palsu itu diberikan kepada Rudiono Arifin (42) warga Tambak Madu, Ati warga Bagong Tambangan, Moch Zainul warga Simolawang, dan Faat warga Gundhi.
Kapolsek Simokerto Surabaya, Kompol Dwi Nugroho mengatakan jika program sosial ini merupakan salah satu implementasi dari Polisi RW. Dengan dekat dengan masyarakat dari lapisan terbawah, petugas kepolisian lebih mengerti kebutuhan masyarakat.
“Jadi Polisi RW bukan hanya menjaga kamtibmas. Tetapi juga memahami sosial yang dibutuhkan masyarakat. Aksi ini adalah salah satu implementasi dari program polisi RW,” ujar Dwi Nugroho saat dihubungi Beritajatim.com, Sabtu (03/05/2023).
Dwi Nugroho menambahkan jika pihaknya juga menggandeng Komunitas Brompton Sinar Baik 024 Semarang untuk membantu para disabilitas. Ia pun mengucapkan terimakasih karena gotong royong antar masyarakat masih terjaga.
“Ini bentuk gotong royong antar masyarakat. Budaya kita adalah saling tolong menolong,” imbuhnya.
Baca Juga: Ini Rekomendasi Makan Seafood di Surabaya, Kepiting BangkokCrab
Dwi menegaskan jika pihaknya memanfaatkan betul peran Polisi RW untuk mengetahui permasalahan yang dialami oleh warga Simokerto. Ia meminta agar masyarakat tak canggung dengan kehadiran polisi RW. Justru dengan kehadiran Polisi RW diharapkan masyarakat bisa dengan cepat melaporkan kondisi baik sosial dan kamtibmas di sekitar lingkungannya.
“Polisi RW ini merupakan salah satu bentuk pengabdian institusi Polri kepada masyarakat. Jadi semoga sinergi yang selama ini sudah berjalan bisa jauh lebih baik,” tegas Dwi.
Sementara itu, salah satu penerima bantuan kaki palsu, Rudiono mengucapkan rasa terima kasihnya kepada pihak Polsek Simokerto. Rudiono yang sehari-hari bekerja sebagai penjual kopi menceritakan jika ia kehilangan kaki kanannya pada tahun 2013 akibat kecelakaan di Pasuruan.
Ia sempat mempunyai kaki palsu namun rusak. Karena harganya mahal, ia pun mengurungkan niatnya untuk membeli kaki palsu. Namun, kekurangan Rudiono tidak membuat ia putus asa. Justru, Rudiono proaktif dalam kegiatan bermasyarakat.
“Saya bersyukur sekali, karena setidaknya bisa membantu aktivitas saya sehari-hari. Meskipun tidak senormal orang-orang yang memiliki fisik yang sempurna,” ujar Rudiono. (ang/ted)






