Ponorogo (beritajatim.com) – Memasuki bulan suci Ramadhan, Polres Ponorogo mengingatkan masyarakat agar menjaga kekhusyukan ibadah, dengan tidak menggelar kegiatan yang berpotensi mengganggu ketertiban umum. Himbauan ini disampaikan langsung oleh Kapolres Ponorogo AKBP Andin Wisnu Sudibyo, menyusul adanya laporan warga terkait aktivitas perang sarung.
Kepolisian menilai, pencegahan sejak dini menjadi langkah penting agar situasi kamtibmas tetap kondusif. Terlebih, tradisi musiman seperti sound horeg dan perang sarung kerap muncul saat Ramadhan
Kapolres mengajak seluruh masyarakat Ponorogo memanfaatkan bulan penuh rahmat ini untuk memperbanyak ibadah dan kegiatan positif. Dia menegaskan bahwa Ramadan seharusnya menjadi momentum meningkatkan kualitas spiritual, bukan justru diwarnai aktivitas yang berisiko menimbulkan gangguan keamanan.
“Saya mengimbau kepada seluruh masyarakat Ponorogo, agar menjalankan ibadah puasa ini dengan baik. Di hari yang suci ini silakan dimanfaatkan dengan baik yaitu dengan beribadah dengan puasa dan kegiatan positif lainnya,” tegas AKBP Andin, Jumat (20/2/2026).
Secara khusus, Kapolres meminta agar kegiatan sound horeg dan perang sarung ditiadakan. Menurutnya, kedua aktivitas tersebut lebih banyak membawa mudarat dibandingkan manfaat. Selain berpotensi memicu keributan, kegiatan itu juga dapat mengganggu kenyamanan warga yang sedang beribadah.
“Untuk kegiatan sound horeg, perang sarung, tolong ditiadakan. Karena apa lebih banyak mudharatnya daripada positifnya,” ungkapnya.
AKBP Andin mengungkapkan, pada malam sebelumnya, sudah ada laporan masyarakat yang masuk melalui layanan aduan 110 terkait indikasi perang sarung. Laporan itu menjadi sinyal bahwa potensi gangguan kamtibmas mulai muncul. Kapolres mengingatkan, apabila kegiatan tersebut semakin masif, maka eskalasi penanganan dari kepolisian juga akan meningkat.
“Jadi semalam pun sudah ada pengaduan dari masyarakat ke Polres Ponorogo melalui aduan 110, itu ada yang sudah mulai melakukan perang sarung. Jadi jangan sampai nanti tindakan dari Polri terkait perang maupun sound horeg itu akan eskalasinya meningkat apabila kegiatan masyarakat itu semakin masif,” jelasnya.
Meski baru satu laporan yang masuk, pihaknya tidak menutup kemungkinan aktivitas serupa bisa berkembang menjadi kebiasaan di sejumlah wilayah hukum Polres Ponorogo. Karena itu, langkah pencegahan terus dilakukan melalui patroli rutin dan imbauan kepada masyarakat. Kapolres berharap masyarakat tidak menganggap perang sarung dan sound horeg sebagai tradisi yang harus dipertahankan. Menurutnya, tradisi yang berpotensi menimbulkan keresahan perlu dievaluasi bersama.
Saat ini pendekatan yang dilakukan masih bersifat persuasif dan preventif. Namun, apabila eskalasi meningkat, kepolisian tidak segan mengambil langkah lanjutan dengan memanggil orang tua maupun pihak sekolah. Hal itu dinilai penting mengingat mayoritas pelaku masih berstatus pelajar dan di bawah umur.
“Sementara masih kita himbau, tapi apabila nanti eskalasinya meningkat tidak menutup kemungkinan akan kita panggil ortunya, akan kita panggil dari kepala sekolahnya untuk memberikan bimbingan kepada anak-anak,” pungkasnya. [end/aje]






