Politik Pemerintahan

Sekolah di Jombang, Moeldoko Kucing-kucingan dengan Kondektur Bus

Kepala Staf Kepresidenan Jendral (Purnawirawan) Moeldoko

Jombang (beritajatim.com) – Nama Jenderal (Purn) Moeldoko banyak dibicarakan. Hal itu setelah mantan Panglima TNI ini terpilih menjadi Ketua Umum dalam KLB (Kongres Luar Biasa) Partai Demokrat di Sibolangit, Deli Serdang, Sumatera Utara, Jumat (5/3/2021).

Moeldoko lahir di Desa Pesing, Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri, 8 Juli 1957, dari pasangan Moestaman dan Masfuah. Moeldoko lahir sebagai anak bungsu dari 12 bersaudara. Moeldoko dibesarkan dari keluarga petani.

Namun demikian, mantan Panglima TNI ini memiliki kenangan khusus dengan Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Pasalnya, masa sekolahnya dihabiskan di Kota Santri itu. Anak bungsu ini mengenyam pendidikan di SMPP (sekarang SMA Negeri 2 Jombang). Dari situlah karier Moeldoko bermula.

Sebagai kenangan terhadap Jombang, Moeldoko mendirikan masjid megah di Jl Raya Kayen, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Jombang. Masjid tersebut berada di dekat pintu tol Jomo (Jombang-Mojokerto). Peresmiannya dilakukan pada 1 Juni 2016.

Dalam catatan beritajatim.com, kompleks masjid itu diberi nama ‘Islamic Centre Dr H Moeldoko’. Dalam peresmian tersebut pria yang kini menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP) bercerita banyak tentang masa-masa sekolahnya. Masa-masa yang sangat susah karena himpitan ekonomi.

Untuk membayar ongkos angkutan sekolah, Moeldoko harus kucing-kucingan dengan kondektur bus. Dia tak mampu membayar, padahal saat itu ongkos angkutan dari Papar, Kediri menuju Jombang hanya Rp 25,. Belum lagi saat ibu kos melayangkan tagihan bulanan. Moeldoko harus pusing tujuh keliling. Keuangannya kembang kempis.

Moeldoko menjelaskan, lokasi Islamic Centre yang di dalamnya terdapat masjid megah itu sengaja dipilih di kawasan Bandar Kedungmulyo. Pasalnya, lokasi tersebut jaraknya dekat Kecamatan, Purwoasri, Kabupaten Kediri dan juga dekat dengan Kota Jombang. Masing-masing jaraknya hanya 10 kilometer.

Memang, Kecamatan Purwoasri, Kediri dan Jombang memiliki sejarah tersendiri bagi mantan Panglima TNI. Betapa tidak, Moeldoko dilahirkan di Desa Pesing, Kecamatan Purwoasri. Sedangkan Jombang adalah tempat Moeldoko mengahabiskan masa mudanya.

Jenderal Moeldoko saat kunjungan ke Jombang pada tahun 2014. [Foto/dok beritajatim]
“Keluarga saya itu pas-pasan. Makanya saat SMA saya ikut kakak di Jombang. Bahkan untuk membayar ongkos bus Rp 25 saja, saya harus kejar-kejaran sama kondektur. Sampai sekarang saya masih ingat zaman susah itu,” ujar Moeldoko di hadapan ratusan hadirin saat itu.

Moeldoko mengungkapkan, atas dasar itu pula dirinya ingin memberikan hal terbaik untuk masyarakat Jombang dan Kediri. Yakni dengan mendirikan komplek Islamic Centre. Dalam komplek tersebut terdapat masjid megah berarsitek Turki Istambul dengan dua menara tinggi menjulang.

Masjid yang mampu menampung sekitar 1500 jamaah itu berukuran 30X30 meter persegi. Sedangkan luas lahan mancapai 6.685 meter persegi. Bukan hanya itu. Di komplek tersebut juga terdapat sekolah TK dan TPQ berukuran 8X24 meter persegi, serta panti asuhan. Terakhir terdapat tiga unit toko atau pusat oleh-oleh.

Moeldoko menegaskan, seluruh aset tersebut pengelolaannya diserahkan ke Pemkab Jombang. “Kecuali untuk panti asuhan, tetap saya tangani sendiri. Di panti asuhan tersebut terdapat 14 anak yatim. Mereka akan saya sekolahkan hingga tingkat tinggi,” ujarnya.

Berapa anggaran untuk membangun komplek Islamic Centre itu? “Tidak etis kalau saya sebut. Karena anggaran tersebut akan saya pertanggungjawabkan kepada Allah,” ungkap Moeldoko tanpa mau menyebut nominal anggaran dan dari mana sumbernya.

Arsitektur masjid terisnpirasi saat Moeldoko melakukan perjalanan spiritual dan berkunjung ke puncak peradaban Islam, yaitu Masjid Biru di Istambul, Turki. Selain itu, kemegahan Masjid Ar Rayyan, Kebon Sirih, Jakarta, juga semakin membulatkan niat Moeldoko untuk segera merealisasikan cita-citanya membangun masjid yang peletakan batu pertama dilakukan 5 Oktober 2014. [suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar