Politik Pemerintahan

Lesbumi NU Gelar Webinar Rawat Budaya Nusantara Tolak Intoleransi dan Radikalisme

Kediri (beritajatim.com) – Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama (NU) mengadakan webinar dengan tema ‘Merawat Budaya Nusantara Menolak Intoleransi dan Radikalisme anti NKRI di Masjid Joglo Rahmatan Wa Salaman Dusun Cangkring, Desa Titik, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri. Seminar secara daring di bulan suci ramadan ini membahas berbagai isu-isu terkini baik skala lokal maupun Nasional, salah satunya bahaya kelompok terorisme.

“Acara ini dalam rangka melihat situasi di wlayah kita paska kejadian teror di DPRD Kota Kediri. Kita melihat ada orang-orang yang mau bermain di wilayah kita, yang notabene Kediri Raya ini sudah cukup solid. Digoyang model apapun. Mereka yang mau membuat kegegeran dan sesuatu yang tidak bagus, ya berarti melawan kita semua,” kata moderator webinar, Imam Mubarok, selaku Wakil Ketua Lesbumi PWNU Jawa Timur, pada Rabu (14/4/2021).

Satu hari sebelumnya, DPRD Kota Kediri menjadi sasaran teror dengan adanya penemuan tas mencurigakan oleh pihak keamanan di halaman. Khawatir berisi bom atau benda berbahaya lainnya, Tim Gegana Brimob Polda Jawa Timur akhirnya meledakan tas misterius itu. Dari peledakan tersebut, diketahui apabila isi tas model sport warna hitam itu, berupa arloji, baterai, potongan pipa, dan batu bata merah.

Sementara itu, seminar virtual ini sendiri menghadirkan sederet pembicara top. Diantaranya, Agus Sunyoto, sebagai Ketua PB Lesbumi PBNU, Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana, KH. Abu Bakar Abdul Djalil, selaku Ketua PCNU Kota Kediri dan Gus RIzmi Haitami Azizi, Ketua GP Ansor Kabupaten Kediri.

Lesbumi NU memandang bahwa aksi teror dengan mengatas namakan agama yang terjadi merupakan upaya kelompok tertentu untuk merongrong kedaulatan Negara, melalui upaya pemusnahan akar budaya bangsa Indonesia. Oleh karena itu, Lesbumi tegas untuk melakukan perlawanan terhadap pola-pola gerakan teror yang membahayakan keutuhan Negara, dengan dalih agama.

Baca Juga:

    “Ada kegalauan dari sekelompok masyarakat yang mencekoki orang-orang yang belum memahami agama secara kaffah. Memahami agama harus secara detil, bagaimana memandang Indoensia Negara Berbhineka Tunggal Ika. Rasulullah itu mengajarkan bahwa segala sesuatu, sebaik-baik umat itu, yang tidak membuat kekacauan. Maka, mereka yang membuat kekisruhan, bukan umat Kanjeng Nabi Muhammad,” tegas Gus Barok, sapaan akrab Imam Mubarok.

    Terpisah, Bupati Kediri Hanidhito Himawan Pramana mengaku, ancaman dari kelompok intoleransi dan radikal ini benar-benar nyata adanya. Tetapi, dengan banyaknya pondok pesantren dan alim ulama yang terus menjaga, maka dirinya yakin, apabila kelompok terorisme bakal sulit untuk menularkan doktrin ajarannya kepada masyarakat Kediri.

    “Tentang isu-isu sangat stretegis beberapa hari terakhir, sebenarnya menjadi satu rangkaian teroris yang ditangkap di Gurah beberapa waktu lalu. Kemudian ada bom di Makassar, dilanjut ada serangan di Mabes Polri dan kemari ada teror d DPRD Kota. Saya sebagai Bupati, saya tidak gentar dengan teror ini, karena saya yakin teroris ini bukan orang beragama,” tegas Hanindhito Himawan Pramana.

    Kepala daerah muda yang lebih karib disapa Mas Bup ini mengajak, seluruh masyarakatnya khususnya umat muslim untuk merajut kebersamaan di bulan ramadan ini. Dirinya minta agar seluruh warga bahu membahu melawan radikalisme dan kelompok inteleransi, agar tidak terpapar oleh doktrin ideologi terorisme.

    “Bulan ramadan ini adalah momentum untuk saling menjaga, merajut kebersamaan umat islam untuk membangkitkan perekonomian. Berharap di bulan ramadan, masyarakat Kediri bisa membangkitkan secara ekonomi, secara batin dan psikisnya. Ayo sama-sama kita lawan terorisme. Saya yakin apabila seluruh elemen bersatu, alim ulama, TNI Polri dan semuanya, saya yakin namanya teroris tidak akan bertahan lama,” tandasnya.

    Untuk memeriahkan acara webinar, selain seminar juga diselingi sholawatan yang diiringi musik hadrah. Rangkaian acara kemudian ditutup dengan buka bersama dan salat magrib berjamaah di Masjid Joglo. Rumah ibadah yang satu ini nyentrik, karena didesain layaknya bangunan rumah masyarakat Jawa yakni Rumah Joglo. Bangunan semakin tampak kuno dengan tambahan dinding kayu berukir dari bahan lawasan. [nm/but]


    Apa Reaksi Anda?

    Komentar