Surabaya (beritajatim.com) – Polisi menetapkan tersangka baru kasus kematian taruna Poltekpel (Politeknik Pelayaran), MRF (20). Tersangka baru itu adalah DA (19), rekan satu angkatan dari AJP yang telah menjadi tersangka sebelumnya.
Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Mirzal Maulana saat dihubungi beritajatim.com membenarkan adanya tersangka baru dalam kasus kematian di Poltekpel Surabaya.
“Iya, satu orang kami tetapkan sebagai tersangka baru. Inisial DA,” ujar Mirzal, Rabu (15/3/2023).
Mirzal menjelaskan, penetapan itu usai penyidik Unit Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya mendapati peran DA dalam aksi kekerasan di kamar mandi Poltekpel Surabaya tersebut.
“Diduga (DA) yang memerintah dan sempat melakukan pembinaan. Ia juga membiarkan saat mengetahui korban dalam kondisi yang berbahaya,” imbuh Mirzal.
Baca Juga:
Penganiayaan di Poltekpel Surabaya, Korban Meninggal Usai Terima 2 Pukulan di Perut
Dari informasi yang dihimpun beritajatim.com, penyidik dari Unit Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya telah memeriksa total 27 saksi dalam peristiwa yang menewaskan MRF. Saat ini, pihak kepolisian terus bekerja untuk mengusut tuntas kasus ini.
Diberitakan sebelumnya, AJP (20), tersangka penganiayaan di Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Surabaya yang menewaskan juniornya RF (19) mengaku pernah mendapatkan perlakuan yang sama saat AJP masih junior. Hal itu diungkapkan AJP saat press rilis yang diselenggarakan Polrestabes Surabaya, Jumat (17/2/2023).
Di depan awak media, AJP menjelaskan kenapa ia menganiaya RF (19) di kamar mandi dengan dua pukulan mutlak di bagian perut hingga menyebabkan RF tewas. “Pada awalnya memang dulu saya ada pengalaman di situ (kamar mandi),” ujar AJP.
Baca Juga:
Autopsi Jenazah Taruna Politeknik Pelayaran Surabaya: Ada Luka di Lambung
Saat ditanya lebih lanjut apakah dirinya pernah menjadi korban, AJP hanya mengangguk membenarkan pertanyaan wartawan. AJP juga mengakui jika kekesalannya terhadap korban lantaran sering menerima informasi jika RF kurang respek terhadap para seniornya. “Motifnya rekan saya pernah bilang ini junior apatis sekali. Kepada senior tidak respek,” imbuhnya.
Ditanya terkait tiga orang temannya yang mengantar korban ke kamar mandi, AJP mengaku jika dirinya tidak mengajak rekannya tersebut. “Awalnya saya sendirian tiba-tiba banyak yang ikut. Awalnya tidak mau memukul. Hanya berbicara. Biar yang lain mulai respek begitu pak,” pungkasnya. [ang/beq]






